Kado dari Indonesia, Ada Hari Medis Gratis di Khan Yunis Gaza

Kado dari Indonesia, Ada Hari Medis Gratis di Khan Yunis Gaza

ACTNews, GAZA, Palestina - Benda ajaib bernama stetoskop itu ditempelkan di dada si adik kecil. Denyut yang tak normal seketika bisa diketahui oleh Paman Dokter. Hari itu, di Khan Yunis, Gaza - Palestina, Paman Dokter bertugas sebagai relawan medis dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Stetoskop diangkat, Paman Dokter meminta adik kecil membuka lebar mulutnya. Tampak tenggorokan si adik merah menyala. Tanda kalau si adik sedang radang. Si adik kecil berambut keriting itu pun mengeluh ke Paman Dokter, kalau ia memang sedang demam

Kepalanya pusing dan badannya sering menggigil. Apalagi ditambah dengan musim dingin yang baru saja melanda seantero Gaza, Palestina. Suhu harian di Gaza bisa anjlok turun di bawah 10 derajat celsius kalau malam datang.

Ditemani sang Umi, Hari itu, si adik kecil itu sudah sejak pagi mengajak Umi untuk ke klinik, sebab hari itu adalah hari medis gratis! Semua obat gratis, pelayanan medis pun gratis! Paman Dokter ACT melayani seluruh pasiennya dengan sepenuh hati.

Hari itu, Selasa (19/12) memang menjadi hari spesial bagi ribuan warga Gaza yang bermukim di wilayah marjinal di Kota Khan Yunis, sebelah selatan Gaza. Ada kado dari Indonesia, ada kiriman hadiah dari masyarakat Indonesia. Seharian itu, sebuah klinik bernama Alhuda Medical Centre di Kota Khan Yunis diubah oleh Aksi Cepat Tanggap menjadi sebuah klinik gratis!

“Kami menyiapkan seluruh pelayanan medis gratis. Ada amanah dari masyarakat Indonesia untuk menjalankan klinik ini gratis seharian penuh. Alhamdulillah Selasa (19/12) itu tidak kurang 900 pasien datang ke klinik ini,” kata Abu Hasan (bukan nama sebenarnya, -red) salah satu relawan dokter ACT di Klinik Alhuda.

Paman Dokter Abu Hasan menuturkan, seperti si adik kecil berambut keriting yang baru saja ia periksa, seluruhnya pasien medis yang datang hari Selasa itu adalah warga Khan Yunis Gaza. Warga yang tak punya pekerjaan sama sekali, sebab di Gaza yang terjajah memang tak ada pekerjaan layak yang bisa dikerjakan.

“Hidup di Gaza sudah sangat sulit, ditambah dengan tak ada pekerjaan. Ratusan ribu keluarga di Gaza hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Obat-obatan susah, kalau pun ada mahal sekali harganya,” tutur Abu Hasan.

Selasa (19/12) lalu, tak kurang 900 pasien warga Khan Yunis Gaza dilayani oleh klinik gratis, kado dari masyarakat Indonesia. Dokter Abu Hasan memaparkan, penyakit yang dikeluhkan warga Gaza kebanyakan disebabkan karena standar hidup yang jauh dari kata layak. Imbas gizi yang tidak terjaga, standar hidup yang anjlok.

“Kebanyakan warga Khan Yunis menderita penyakit kronis musiman, juga penyakit-penyakit umum menjelang musim dingin. Seperti misalnya diabetes mellitus, hipertensi, asma, infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernapasan bagian atas, bahkan patah tulang dan luka setelah Intifada Al-Aqsa kemarin,” papar Abu Hasan.

Amanah Masyarakat Indonesia, Pelayanan Medis Gratis ACT di Gaza

Aksi pelayanan medis gratis Selasa (19/12) lalu merupakan lanjutan aksi nyata yang diinisiasi ACT langsung di Gaza. Berkolaborasi dengan puluhan mitra relawan medis ACT yang bermukim di Gaza, sekali lagi amanah masyarakat Indonesia rampung disampaikan.

Bambang Triyono, Direktur Global Humanity Response ACT menjelaskan, narasi kemanusiaan dari Masyarakat Indonesia masih bakal terus berlanjut di Gaza, juga meluas sampai ke Al-Quds, Yerusalem Palestina.

“Setiap harinya akan ada aksi lanjutan yang bakal digulirkan ACT di Gaza. Untuk Gaza, Aksi Medis Gratis, Dapur Indonesia juga Distribusi Water Tank ACT akan menjadi prioritas. Insya Allah nama dan bendera Indonesia akan terus berkibar di Gaza,” tutur Bambang. []

Tag

Belum ada tag sama sekali