Kala Amanah Dermawan Semarakkan Ramadan di Somalia

Pandemi Covid-19 membuat pemenuhan kebutuhan pangan di Somalia cukup sulit pada Ramadan tahun lalu. Meredam permasalahan tersebut, Aksi Cepat Tanggap mendistribusikan bantuan pangan untuk masyarakat di Mogadishu.

Sejumlah pengungsi mengangkut bantuan pangan ke rumah mereka. (ACTNews)

ACTNews, MOGADISHU – Harga pangan di Mogadishu, Somalia, pada Ramadan 2020 naik. Para pengungsi internal di sana semakin hidup dalam kondisi sulit. Ketika wabah corona menghambat perekonomian, maka warga mengumpulkan apa yang mereka miliki bersama tetangga untuk dapat menikmati makan bersama.

“Saat wabah virus corona meluas di kota dan orang tidak pergi bekerja, kami mulai mengumpulkan setiap uang dari sejumlah keluarga untuk makanan,” papar warga di kamp pengungsi Mohamed Warsame Hirsi.

Selain kesulitan secara ekonomi, menjaga jarak sosial dan mencuci tangan sulit dilakukan bagi orang yang tinggal di kamp yang padat penduduk dan sanitasi yang buruk.

“Kami tidak memiliki sabun untuk membersihkan tangan kami saat virus menyebar,” tambah salah seorang penyintas, Khadija Diriye.

Turut membantu pengungsi di Mogadishu, Aksi Cepat Tanggap mendistribusikan bantuan paket pangan untuk masyarakat Somalia. Ratusan orang menyambangi sebuah tanah lapang di Distrik Abdi Aziz, Mogadishu. Di atas lapangan itu telah tersedia paket pangan untuk masing-masing dari mereka. Satu per satu dari mereka berbaris dan mengambil paket-paket pangan pada pertengahan Mei lalu.


Ekonomi yang merosot membuat warga Somalia kesulitan mememnuhi kebutuhan pangan pada Ramadan tahun 2020. (ACTNews)

“Paket-paket pangan ini adalah hadiah dari masyarakat Indonesia kepada keluarga yatim dan pengungsi internal dari konflik di Somalia. Ada 1.897 jiwa yang menerima bantuan paket pangan Ramadan ini,” ujar Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response-ACT.

Masing-masing dari mereka terlihat bahagia menenteng paket berisi gula, tepung, beras, minyak goreng, kurma, susu dan deterjen. Faradiba mengatakan, mereka memang saat ini membutuhkan bantuan karena selain hidup sulit di pengungsian, mereka ada di bawah ancaman pandemi Covid-19. Ramadan tahun ini, ACT berikhtiar kembali membersamai warga Somalia.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA), melaporkan sekitar 2,7 juta warga Somalia akan menghadapi kekurangan pangan yang parah selama beberapa bulan mendatang karena kondisi kekeringan mempengaruhi lebih banyak daerah di negara itu.


Juru Bicara OCHA Jens Laerke mengatakan krisis kelaparan di Somalia akan menjadi yang terburuk antara April dan Juni. Di antara sekitar 2,7 juta orang Somalia yang terkena dampak, katanya adalah 840 ribu anak di bawah usia lima tahun.

“Itu merupakan peningkatan lebih dari 65 persen dibandingkan dengan level saat ini. Kekurangan air juga akan meningkatkan risiko wabah penyakit. Hilangnya padang rumput tadah hujan mengancam kelangsungan hidup ternak yang merupakan tumpuan banyak mata pencaharian di Somalia. Pengungsi telah memberi tahu OCHA bahwa mereka bergerak mencari air dan padang rumput untuk hewan mereka," ujar Laerke.[]