Kala Covid-19 Makin Menghimpit Pelaku Usaha Mikro

Warga RT 9 Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, sebagian besar mengais rejeki dengan cara berdagang. Di tengah pandemi, penjualan mereka sepi, penghasilan pun tak pasti.

Ismail (58), warga RT 9 Kelurahan Ancol, penjual mi ayam di Pasar Pagi Mangga Dua, harus menutup kios sejak pemberlakuan PSBB DKI Jakarta sejak awal April karena dagangannya mulai sepi. Kini, ia berjualan di dekat rumah dan hanya laku sekitar tiga porsi per hari. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Sudah empat bulan Ismail (58) menerima penghasilan yang jauh berkurang dari hari-hari sebelumnya. Ia harus menutup kedai mi ayamnya di Pasar Pagi sejak pemberlakuan PSBB DKI Jakarta awal April lalu. Kini, ayah dua anak itu hanya menjalankan kedai mi ayam dekat rumahnya di gang Apel Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

“Kadang sehari tiga mangkok. Itu saja buka dari asar sampai tengah malam,” aku Ismail. Pandemi corona cukup mengubah pendapatan Ismail berdagang mi ayam.

Sebelum pandemi, pembeli mi ayam Ismail cukup banyak. Ia bahkan menjalankan dua kedai mi ayam sekaligus, pertama di Pasar Pagi, satu lagi di Gang Apel yang dijalankan oleh istrinya. Lokasi kedai di Gang Apel yang dekat dengan sekolah TK pun membuat dagangannya laku keras.

Pemberlakuan PSBB dan penanganan Covid-19 yang urung menemukan titik terang membuat Ismail dan keluarganya mempersiapkan strategi “perang”. Guna mengakali pendapatannya yang semakin berkurang, istri Ismail membuka kedai jajanan dan es buah selama puasa ini. “Anak masih kuliah, kalau enggak tambah jualan begini mau bagaimana?” katanya.


Siti Munasiroh (48), penjual nasi uduk di RT 9 Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, kehabisan modal untuk kembali membuka usaha. Pandemi membuat pembeli nasi uduk Siti berkurang drastis, sementara waktu Siti menutup usahanya. (ACTNews/Gina Mardani)

Tidak jauh dari tempat tinggal Ismail, ada juga Siti Munasiroh (48). Ibu empat anak itu biasa berjualan nasi uduk. Setahun ini, kepada ACTNews, Siti mengaku terjerat utang bank keliling.

“Punya utang di mana-mana. Sekarang enggak bisa jualan juga, (pembeli) berkurang karena korona. Saya maunya lepas dari utang, saya tahu ini enggak boleh, tetapi bagaimana?” kata Siti menyeka air mata saat ditemui tim ACT di rumahnya.

Siti biasa mengandalkan pesanan dari orang-orang yang berjualan di Pasar Pagi. Selain nasi uduk, ia biasa berjualan donat goreng sederhana. Namun, semenjak pandemi, tidak ada lagi pemasukan hingga ia kehabisan modal untuk berdagang.

“Ini dapat bantuan sembako. Nanti bisa buat modal jualan. Kalau suami bekerja sebagai sopir, gajinya belum cukup untuk membiayai tiga anak yang masih sekolah. Saya tetap harus ikhtiar,” semangat Siti.

Covid-19 memang semakin terasa menghimpit. Siti tidak mau putus asa selagi bisa. Ia berikhtiar membuka dagangan kembali usai Idulfitri walau pembeli memang tidak sebanyak biasanya. Selain biaya sekolah, Ia juga harus membayar iuran air dan membeli gas masak.

“Semoga masih ada masyarakat yang mau saling menolong. Setidaknya untuk modal usaha, dan semoga corona segera berakhir,” doa Siti.

Di masa pandemi ini, ACT turut mendukung upaya masyarakat yang memiliki usaha mikro seperti Siti melalui program Sahabat Usaha Mikro Indonesia. Program yang akan diluncurkan selepas Idulfitri ini akan memberikan sedekah modal kerja dan pendampingan untuk pelaku usaha ultra mikro yang terdampak pandemi Covid-19. []