Kala Semua Serba Terbatas di Pulau Selat Desa

Masih termasuk kawasan administrasi Kota Batam tidak menjamin kehidupan warga di Pulau Selat Desa, Kepulauan Riau, serba ada. Bertahun-tahun, 45 keluarga yang mayoritas mualaf di pulau tersebut hidup tanpa listrik, puskesmas, dan hanya ada musala.

Foto udara menunjukkan menara SUTET yang melintasi Pulau Selat Desa. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BATAM Pulau Selat Desa, begitulah warga menamakan tempat mereka bermukim. Pulau di timur Pulau Batam itu berjarak sekitar 15-20 menit jika ditempuh menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Penyeberangan Telaga Punggur. Pulau ini pun masih masuk dalam administrasi Kota Batam, tepatnya di Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa. Selat Desa masih satu daratan dengan Air Mas dan berseberangan dengan Pulau Ngenang.

Pada pekan ketiga Maret, ACTNews berkesempatan mengunjungi Selat Desa ditemani Ari Anggara, seorang dai yang sudah setahun terakhir berdakwah dan menetap di sana. Ari mengatakan, Pulau Selat Desa masih amat kekurangan fasilitas, padahal letaknya dekat dengan Kota Batam.

“Perbedaan paling terlihat adalah listrik. Saat malam, di Batam dan Tanjung Uban terlihat terang dari kejauhan dengan lampu-lampunya sedangkan di Selat Desa pakai diesel (untuk mengalirkan listrik). Listrik hanya ada pukul enam sore hingga sepuluh malam saja karena minyaknya mahal,” tutur Ari. Cerita pertama itu disampaikan Ari di atas perahu cepat yang ia pinjam untuk menjemput tim ACTNews, Kamis (18/3/2021).

Bertahun-tahun 45 keluarga yang tinggal di Pulau Selat Desa hidup tanpa listrik. Padahal, pulau tersebut menjadi lintasan kabel saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang menghubungkan Batam dengan Bintan. Beberapa menara SUTET yang menghantarkan listrik itu pun berdiri di Selat Desa hingga Air Mas. Namun, gelap masih mengepung hingga sekarang. Diesel yang dipakai bersama menjadi harapan untuk warga Selat Desa menikmati listrik yang mengalir ke rumah-rumah.

Mesin diesel yang digunakan warga pun membutuhkan banyak bensin. Selain harga bensin mahal, warga harus ke Batam menggunakan perahu untuk mendapatkannya. “Sekali perjalanan ke (wilayah) Punggur minimal biaya bensin Rp 50-80 ribu. Serba mahal dan susah warga di Selat Desa. Apalagi enggak semua warga punya kapal motor dan kebanyakan ekonomi warga masih prasejahtera,” tambah Ari.


Warga Selat Desa mendayung sampan untuk mengantar anaknya ke sekolah di Pulau Ngenang. (ACTNews/Eko Ramdani)

Sebagian besar mata pencaharian penduduk Pulau Selat Desa adalah nelayan. Mayoritas mereka pun Suku Laut yang menggantungkan hidup di laut. Berbekal peralatan tradisional.  Mereka menangkap ikan. Sebelum matahari terbit, nelayan Selat Desa mulai menghidupkan kapal atau mendayung sampan untuk memancing.

Saat orang tua berangkat membelah ombak, anak-anak Selat Desa bersiap menimba pendidikan di sekolah. Sampan kecil jadi transportasi utama menuju sekolah. Sekolah terdekat ada di Pulau Ngenang berjarak sekitar 10-15 menit dengan sampan. Setiba di dermaga Pulau Ngenang, anak-anak akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju gedung sekolah.

“Di Selat Desa enggak ada sekolah sama sekali. Di sini cuma ada musala sama rumah semi permanen punya warga saja. Untuk puskesmas sama sekolah harus nyeberang pulau lagi,” kata dai asal Tanjung Pinang itu.[]