Kala Wakaf Pangan Bantu Penuhi Fasilitas Negara

Selain memenuhi kebutuhan makan, sejarah mencatat, keberadaan wakaf pangan bisa membantu suatu pemerintahan memberikan layanan terbaik kepada masyarakatnya.

wakaf pangan
Ilustrasi. Di beberapa masa di negara, pertanian menjadi salah satu sektor penopang sejumlah fasilitas sebuah negeri. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Seorang raja Mesir pernah bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi yang kurus dan ada tujuh tangkai gandum yang hijau dan yang lainnya kering. Nabi Yusuf kemudian diminta menakwilkan mimpi tersebut dan berkata bahwa Mesir akan mengalami masa subur selama tujuh tahun, dan paceklik pula dalam tujuh tahun.

Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan,” demikian saran Nabi Yusuf saat itu seperti dijelaskan dalam Surat Yusuf ayat 47 dan 48.

Ustaz Abdulkadir Baraja menjabarkan, dari ayat ini dapat dilihat cara Nabi Yusuf mengenalkan konsep wakaf. “Mengulas tafsir Surat Yusuf, cerita Nabi Yusuf ini ada dua periode. Periode subur, dan periode paceklik. Pada periode subur, menganjurkan rakyatnya untuk sedikit yang dimakan sedikit yang disimpan. Pada periode paceklik, sedikit yang dimakan, sedikit yang disimpan. Pertanyaannya, yang banyak ke mana? Yang banyak itu dikelola sebagai wakaf produktif,” ujar Ustaz Abdulkadir pada pertengahan Oktober 2020 lalu. Bibit gandum yang dikelola inilah tentu yang menghidupi masyarakat Mesir pada saat itu selepas masa paceklik berakhir.

Semangat wakaf untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat ini terus terjaga dalam umat Islam. Bukan hanya sekadar memenuhi pangan, tetapi hasil produktivitas sektor pangan ini meluas memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain.

Kisah ini sejalan dengan yang pernah dijelaskan Imam Teguh Saptono yang saat ini menjabat sebagai salah satu pimpinan di Badan Wakaf Indonesia (BWI). Imam menceritakan, lahan pertanian dapat menyokong sebuah rumah sakit bernama Al-Adudi berdiri di Baghdad pada tahun 981 M.


“Di sana ceritanya satu rumah sakit itu di-backup oleh one village land of agriculture. Jadi satu rumah sakit itu di-backup oleh satu hamparan pertanian. Apa yang bisa dibuat oleh rumah sakit saat itu? Satu, pasien tidak perlu membership. Dua, siapa yang sakit tidak ada biaya sedikit pun. Warga negara, bukan warga negara, ataupun musafir. Dan apabila mereka sembuh lalu ketahuan mereka prasejahtera, maka diberikan modal untuk berusaha,” cerita Imam.

Contoh lain adalah pertanian menjadi salah satu wakaf yang utama di Yordania. Pohon zaitun, kurma, dan buah badam menjadi tanaman pilihan mereka. Ribuan pohon tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Adapun hasil yang sudah dicapai dari pengembangan wakaf yang dilakukan oleh Wizaratul Auqaf (Departemen Perwakafan) Kerajaan Yordania antara lain digunakan untuk kepentingan pendidikan, kesehatan, dan warga prasejahtera.  Selain itu, mereka juga mendirikan dua lembaga yang cukup penting, yakni lembaga Arkeologi Islam dan lembaga peninggalan-peninggalan Islam.

Hasil pengelolaan wakaf itu dipergunakan juga untuk memperbaiki perumahan penduduk di beberapa kota. Salah satu di antaranya adalah kota yang luas areanya 79 dunum (satu dunum sekitar 900 meter persegi).[]