Kami Malu, Daging Kurban Ini Diantar dari Jauh

Kami Malu, Daging Kurban Ini Diantar dari Jauh

ACTNews, LUWU - Menjelajahi wilayah selatan Pulau Sulawesi, Global Qurban menyapa masyarakat di pelosok Desa Sumabu, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan pada Ahad (2/9). Penghuni desa ini bisa dibilang sedikit, hanya sekitar 50 keluarga di wilayah tersebut.

Desa Sumabu terletak pada dataran tinggi yang identik dengan suhu udara yang dingin. Sejak fajar bergerak ke arah barat, tak hentinya kami mendengar tapak langkah kaki warga yang ingin melihat prosesi penyembelihan hewan kurban dari Global Qurban. Di antara mereka yang hadir, pasti selalu terselip rasa bahagia atas sesuatu yang telah nampak di hadapan mereka.

Pagi ini tak seperti biasanya, awan mengepul gelap pertanda akan turun hujan. Semilir angin silih berganti membelai tubuh dan berdesis di telinga kami. Namun semua itu terasa sejuk. Warga yang berkumpul didominasi kaum ibu, tak sedikit juga anak-anak. Sementara itu, para bapak sudah bersiap membantu prosesi pemotongan kurban. Tak lupa menyelipkan canda dan tawa demi menghangatkan suasana.

Proses pemotongan hingga pengemasan daging kurban telah rapih diselesaikan, untuk selanjutnya dibagikan kepada warga sekitar. Wajah-wajah sumringah terutama kaum lansia sangat jelas terlihat. Tak heran, karena di wilayah desa tersebut hanya kami yang mengadakan pemotongan hewan kurban. Seakan kedatangan tamu spesial, mereka tak henti mengucapkan terima kasih atas daging kurban yang telah diterima.

"Kami sungguh malu. Harusnya kami yang meminta-minta (daging kurban), tapi nyatanya kalian jauh-jauh mengantarkan daging ke rumah kami,” tutur Damis, tokoh masyarakat Desa Sumabu.

Mungkin kata “malu” adalah ungkapan keterkejutan mereka akan berkah kurban yang datang tak disangka-sangka. Kebahagiaan ini datang melalui perantara saudara setanah air yang tinggal ratusan kilometer jauhnya dari desa mereka.

“Terima kasih, semoga selalu diberikan kesehatan untuk terus bisa membantu kami," ungkap warga lainnya, Fatimah.

Warga Desa Sumabu sebagian besar berprofesi sebagai buruh petani. Melihat dari kondisi rumah mereka yang masih dikelilingi papan kayu, bisa dibilang penghasilan mereka mungkin masih di bawah batas wajar.

Apa yang terpampang di depan mata seakan menjelaskan mengapa wilayah tersebut masih sepi dari kebahagiaan kurban saat hari raya Idul Adha tiba. []

Tag

Belum ada tag sama sekali