Kampung Seupang Kini Nihil Penduduk

Pascabencana banjir bandang, seluruh warga Kampung Seupang meninggalkan tempat tinggalnya. Mereka mengungsi dan enggan kembali lagi ke sana.

Kampung Seupang Kini Nihil Penduduk' photo
Jahaedi sambil menggendong anaknya berada di depan bekas rumahnya yang hancur akibat banjir bandang di Kampung Seupang, Pajagan, Sajira, Lebak, Sabtu (15/2). (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, LEBAK Tak ada lagi keramaian warga di Kampung Seupang, Desa Pajagan, Sajira, Lebak sejak awal tahun 2020. Ratusan penduduknya meninggalkan kampung, mengungsi ke tempat yang lebih aman. Banjir bandang yang melanda pada Rabu (1/1) lalu jadi penyebabnya. Ketinggian air yang bercampur lumpur yang mencapai sekira lima meter membawa harta benda dan menghancurkan tempat tinggal warga.

Tercatat pada 1 Januari 2020, jumlah penyintas dari Kampung Seupang mencapai 290 jiwa. Usia anak-anak hingga lansia untuk sementara bertahan di rumah tetangga mereka yang tak terdampak banjir bandang, posisinya berada lebih tinggi dari Kampung Seupang.

Sekitar 70 rumah di Kampung Seupang hancur akibat diterjang banjir bandang. Satu bangunan sekolah serta masjid ikut hancur. Sisa lumpur kini mengendap di perkampungan, tingginya 30 hingga 100 sentimeter. Tidak ada warga yang ingin kembali ke kampung itu lagi, mereka meninggalkannya bersama seluruh harta.

Juhaedi salah satunya. Kini ia mendirikan tenda sebagai tempat berteduh sementara untuk anak dan istrinya. Pria yang sebelumnya membuka usaha bengkel di rumahnya di Kampung Seupang tak ingin kembali ke rumahnya, walau sekarang sudah surut. “Enggak mau lagi balik ke sini (Seupang), takut,” katanya saat menemani tim ACTNews melihat lokasi terdampak banjir bandang, Senin (17/2).


Kampung Seupang persis berada di telian aliran Sungai Ciberang. Sungai ini meluap hingga ketinggian air mencapai lebih dari lima meter di awal Januari 2020 lalu. (ACTNews/Eko Ramdani)

Serupa Jahaedi, Hidayat juga tak ingin kembali ke Kampung Seupang. Ia ingin pindah tempat tinggal karena trauma banjir bandang yang menurutnya sangat mengerikan. “Air mulai kelihatan naik dari jam 6 pagi. Jam 9 banjir bandang datang,” kenang Hidayat saat bencana terjadi di awal tahun 2020 itu.

Kampung Seupang berada persis di tepian aliran Sungai Ciberang. Sungai ini merupakan bagian aliran air dari Waduk Karian di Rangkasbitung. Kampung Seupang juga menjadi salah satu kampung yang diminta untuk dikosongkan karena masuk daerah rawan bencana jika sewaktu-waktu debit air dari Waduk Karian tinggi.

Namun, bencana terlebih dahulu datang sebelum Kampung Seupang benar-benar ditinggalkan penduduknya. Seluruh bangunan hancur diterjang banjir, tidak menyisakan apapun, kecuali sisa bangunan yang penuh dengan lumpur.

Tercatat sekitar 70 kepala keluarga dari Kampung Seupang mengungsi tak jauh dari lokasi terdampak bencana. Mereka mendiami lahan yang sebelumnya berupa kebun bambu. Sebanyak 43 tenda terpal berdiri untuk menampung 285 jiwa terdampak banjir bandang.[]


Bagikan