Kapal Ramadhan Siap Berkeliling ke Tepian Negeri

Kapal Ramadhan Siap Berkeliling ke Tepian Negeri

ACTNews, JAKARTA – Ramadan adalah tentang perjalanan. Menyusuri jalur-jalur panjang dan bercabang, melompati tantangan-tantangan, tak lupa menyapa siapapun yang ditemui ketika singgah di satu pemberhentian. Sampai akhirnya, di ujung perjalanan akan bertemu dengan hari kemenangan.

Seperti perjalanan dalam Ramadan, Insya Allah seperti itu pula semangat yang sedang disiapkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT). Menyambut Ramadan tahun 1439 H, sebuah rencana perjalanan epik akan disiapkan.

Presiden ACT Ahyudin menamai perjalanan ini dengan julukan Kapal Ramadhan. Sesuai identitasnya, Kapal Ramadhan akan melakukan pelayaran selama bulan Ramadan nanti. Daerah yang bakal disambangi untuk berbagi berada di kawasan sebelah timur Indonesia.

Ini tentang ikhtiar menyapa, mengelilingi dan berbagi dengan ribuan masyarakat Indonesia selama bulan Ramadan. Destinasi perjalanan sedang disusun. Titik-titik yang dituju akan mengarah ke wilayah Indonesia Timur, memprioritaskan titik-titik yang selama ini menjadi wilayah yang tepian negeri.

Ahyudin mengatakan, Kapal Ramadhan akan menjadi pembuktian, bahwa negeri ini merangkul saudaranya tak terbatasa suku bangsa mana pun. Dari Sabang hingga Merauke, dari sisi barat hingga timur Indonesia.  

“Nasionalisme kita tak boleh dibilang sedang kritis. Justru di momen Ramadan ini kita optimis bahwa nasionalisme kita itu kuat, dan kekuatannya lahirnya dari mayoritas populasi Muslim di Indonesia. Momentum bulan penuh berkah, Kapal Ramadhan atas nama bangsa Indonesia, berlayar untuk bangsa Indonesia,” ujar Ahyudin.

Kapal Ramadhan menyelamatkan tepian negeri

Tinggal menghitung hari mundur, kurang dua pekan lagi, kebaikan Ramadan bakal bercengkerama dengan hari-hari tiap Muslim dunia. Walau datang Ramadan nan baik, tak bisa dipungkiri, tahun ini konflik masih mendera berbagai negeri Muslim. Perang saudara dan arus pengungsian menggema menjadi masalah pelik.

Namun, Alhamdulillah kabar minor itu tak sampai menghampiri Indonesia. Menjalani nasib yang berbeda, Indonesia dengan identitasnya sebagai populasi Muslim terbesar di dunia, mampu menjaga nasionalisme dan kerukunannya.

“Kenapa NKRI bisa bersama? Karena ini negeri Muslim terbesar di dunia. Muslim tidak terpecah belah. Bicara Kapal Ramadhan, berarti bicara tentang perjalanan Indonesia merangkul satu sama lain, menyapa saudara sebangsa di tepi-tepi Indonesia,” tutur Rini Maryani, selaku Vice President ACT.

Rini menambahkan, masyarakat dunia pun membanggakan Indonesia sebagai peringkat satu populasi Muslim terbanyak di kolong langit. “Dari Palestina, Suriah, Somalia, Yaman, sampai orang-orang Rohingya yang teraniaya tak lupa mendoakan Indonesia,” ungkapnya.

Bahkan, sepanjang setahun terakhir, justru kerukunan dan kekompakan masyarakat Indonesia mampu dikonversi menjadi kebaikan. Ikhtiar kebaikan Indonesia sampai ke negeri-negeri yang berkonflik. Rini mengatakan, bantuan beras dari orang-orang Indonesia rampung dikirimkan untuk jutaan pengungsi korban konflik.

“Cerita Kapal Kemanusiaan Somalia, Palestina, Suriah, hingga Kapal Kemanusiaan untuk orang-orang Rohingya di Bangladesh, bukti bahwa Indonesia kuat,” tuturnya.

Atas dasar itulah, menyambut Ramadan tahun ini, sekali lagi Indonesia bisa buktikan kalau kebaikan Indonesia tak kenal batas. “Yang jauh saja dibantu, apalagi yang dekat. Momentum Ramadan ini, Insya Allah Kapal Ramadhan akan merangkul mereka yang berada di tepian negeri, berbagi kebaikan, menikmati santap berbuka puasa bersama,” ujar Rini.

Bahkan kebaikan itu universal, tidak terbentur agama apa, suku mana. Rini menegaskan kalau nanti Kapal Ramadhan akan singgah di titik-titik tepian negeri paling membutuhkan. “Tak melihat agama apa, suku mana, apalagi preferensi politik apapun. Kita buktikan Indonesia mampu menyatu, melebur, di antara Ramadan penuh kebaikan,” ujarnya.

Kilas balik setahun lalu, masih teringat perjalanan serupa menyusuri titik-titik tepian negeri, dilakukan kala menghabiskan waktu Ramadan. Rini memaparkan, setahun lalu, ACT juga hadir di sepanjang titik-titik tapal batas di wilayah barat Indonesia.

“Ramadan setahun lalu, dari Pulau Simeulue menyusuri Pulau-Pulau di Mentawai. Lalu bergerak ke Timur Indonesia, Maluku, berpindah ke Pulau Kera hingga Atambua, Nusa Tenggara Timur,” pungkasnya. []