Kapal Tanker Minyak Tumpah di Yaman, Peneliti: Bencana Kemanusiaan akan Terjadi

Para peneliti memprediksi tumpahan minyak akan mengganggu pasokan pangan dan air untuk jutaan warga di Yaman.

kapal tanker minyak yaman
Penampakan kapal tanker bahan bakar FSO Safer di Laut Merah, Yaman. (Maxar Tech)

ACTNews, YAMAN – Sebuah kapal tanker bahan bakar besar yang telah lama ditinggalkan di lepas pantai Yaman, diperkirakan para peneliti akan menumpahkan isinya dalam waktu dekat. Jika hal tersebut terjadi, para peneliti menyebut bencana kemanusiaan akan semakin parah terjadi di Yaman. Tumpahan minyak akan mengganggu masuknya pasokan pangan dan air untuk jutaan warga di Yaman.

Dampak ini, bisa terjadi karena Hampir 70 persen bantuan kemanusiaan untuk warga ke Yaman masuk melalui pelabuhan Hodeidah dan Salif, yang berada di dekat kapal tanker tersebut.

Kapal bahan bakar bernama FSO Safer tersebut, diketahui telah berusia 45 tahun dan memuat 1,1 juta barel minyak mentah. Kapal tersebut telah ditinggalkan di dekat pelabuhan barat Yaman, Hodeida sejak 2015.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability pada Senin (11/9/2021), para peneliti dari Universitas Stanford, Universitas Harvard, dan UC Berkeley mengatakan, tumpahan minyak dari kapal tersebut juga akan menyebabkan bencana lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dampak tersebut dikatakan para peneliti  akan dirasakan di seluruh wilayah Yaman.

"Tumpahan dari kapal tanker minyak Safer diperkirakan akan menjadi bencana besar, terutama untuk Yaman," sebuah pernyataan dalam studi tersebut.

Sebagai perbandingan, jumlah minyak di kapal tanker empat kali lipat lebih banyak dibanding insiden tumpahan minyak terbesar di dunia, dari kapal Exxon Valdez pada tahun 1989.

Area Laut Merah yang akan terkena dampak tumpahan minyak ini, adalah rumah bagi beberapa pelabuhan Yaman, serta beberapa pabrik desalinasi dan perikanan yang memberikan pendapatan bagi jutaan orang Yaman.

Selain kerusakan pantai, para peneliti mencatat bahwa ada potensi polusi udara yang mampu mencapai hingga wilayah tengah dan utara Yaman. Meningkatkan jumlah risiko penyakit karena polusi dari 5,8 menjadi 42 persen.

"Dengan hampir 10 juta kehilangan akses ke air bersih dan tujuh juta kehilangan akses ke pasokan makanan, kami memperkirakan juga akan terjadi kematian massal akibat kelaparan, dehidrasi, dan penyakit yang ditularkan melalui air. Ini semakin diperparah dengan perkiraan kekurangan bahan bakar dan pasokan medis, yang berpotensi menyebabkan penutupan rumah sakit secara luas," ujar Benjamin Huynh, peneliti dari Universitas Stanford.[]