Kartika dan Enam Anaknya Tinggal di Rumah Tak Layak

Penghasilannya tak menentu membuat Kartika, warga Tasikmalaya, tak sanggup untuk merenovasi rumah. Tempat tinggalnya kini tak layak huni, sudah lapuk termakan usia.

Kartika (kedua dari kiri) sedang foto bersama keluarganya pada akhir September lalu di tempat tinggalnya di Tasikmalaya. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA Sejak suaminya meninggal dunia tiga bulan lalu, Ii Kartika, warga Kampung Cimanggu, Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaresik, Tasikmalaya harus menjadi orang tua tunggal bagi enam orang anaknya. Dua dari enam anak Kartika masih membutuhkan biaya untuk sekolah, sedangkan empat orang lainnya sudah di usia kerja. Namun, keadaan perekonomian mereka masih prasejahtera.

Kartika bersama enam anaknya dan mantu dari dua anaknya yang sudah menikah tinggal di rumah tak layak huni berukuran 6x8 meter. Dinding rumah Kartika hanya dari bilik bambu dengan lubang di beberapa sisinya. Tiang penyangga dari bambu pun telah rapuh dan dikhawatirkan dapat roboh sewaktu-waktu. Rumah itu tanpa sekat. Tempat tidur, dapur, dan tempat menyimpan perabotan menjadi satu.

“Sudah puluhan tahun berdiri, rumah ini belum pernah direnovasi. Dinding banyak yang bolong, kalau malam ya dingin, kalau hujan juga rembes” ungkap Kartika, Selasa (12/11).


Kondisi rumah Kartika di Tasikmalaya. (ACTNews)

Sebagai orang tua tunggal, Kartika saat ini bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya tak menentu, sedangkan ia masih harus membiayai kedua anaknya yang masih sekolah. Dengan kecilnya pendapatan dan masih tingginya kebutuhan, Kartika sangat sulit untuk menyisihkan pendapatan guna renovasi rumah.

Saat ini, mimpi Kartika hanyalah mempuyai rumah layak huni agar anak-anaknya dapat beristirahat dengan nyaman. Terlebih bagi anaknya yang masih sekolah, Salma dan Deka. Walau tinggal di hunian yang tak layak huni, mereka tetap semangat untuk bersekolah. “Karena kondisi ekonomi seperti ini, kadang tetangga memberikan anak saya uang bekal sekolah. Kadang juga kalau ada rumah tetangga yang kosong kami izin untuk inapi,” tutur Kartika.

Saat ini, melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tasikmalaya, rumah Kartika akan direnovasi. ACT Tasikmalaya saat ini masih membuka penggalangan donasi secara daring melalui www.kitabisa.com/campaign/rumahlayakuntukduafa. Dalam 48 hari ke depan, penggalangan donasi masih dibuka. Fauzi dari Tim Program ACT Tasikmalaya mengharapkan, donasi akan terkumpul dan dapat merenovasi rumah Kartika dan keluarganya menjadi layak huni. “Saat ini keadaan rumah memang sangat memprihatinkan, bangunannya mau roboh karena kayu yang menjadi bahan utama berdirinya rumah sudah lapuk termakan usia,” terang Fauzi, Selasa (12/11). []