Kasus Covid-19 di Pengungsian Rohingya “Meledak”

Kondisi hunian pengunsi Rohingnya di Cox's Bazar, Bangladesh yang sangat padat, membuat protokol kesehatan amat sulit diterapkan di sana. Imbasnya, penyebaran Covid-19 amat mudah terjadi. Per 21 Mei 2021, ada 863 kasus positif Covid-19 di kamp-kamp di Cox's Bazar, memaksa pihak yang berwenang memberlakukan aturan penguncian wilayah (lockdown) di sana.

pengungsi rohingya
Pengungsi Rohingya tinggal di hunian padat. (ACTNews/Shulhan Syamsur Rijal)

ACTNews, COX'S BAZAR – Kondisi kamp-kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh, khususnya di distrik Cox's Bazar, bisa disebut tidak layak huni. Selain hanya disusun dari terpal-terpal sederhana, penempatan tiap hunian juga sangat tidak beraturan. Tidak ada jarak antara satu hunian dengan hunian pengungsi lainnya menyebabkan kamp-kamp pengungsi menjadi sangat penuh dan sesak.

Protokol kesehatan yang digaungkan Pemerintah Bangladesh pun menjadi amat sulit diterapkan di sana. Imbasnya, penyebaran Covid-19 menjadi sangat mudah terjadi.

Per Jumat (21/5/2021), ada 863 kasus positif Covid-19 dan 13 kasus kematian  yang telah dilaporkan di antara lebih dari satu juta pengungsi Rohingya di kamp Cox's Bazar. Jumlah ini melonjak setelah Rabu (19/5/2021) lalu terjadi 45 tambahan kasus dari 247 pengungsi yang dites.

Esok harinya pada Kamis (20/5/2021) terjadi penambahan jumlah kasus dengan angka yang hampir sama. Melihat lonjakan kasus ini, Pemerintah Bangladesh pun menerapkan aturan penguncian wilayah (lockdown) di sejumlah kamp pengungsian yang memiliki angka kasus penyebaran tertinggi.

“Lonjakan kasus  membuat kami mengambil keputusan ini sebagai langkah pencegahan,” ujar wakil komisioner urusan pengungsi Bangladesh, Shamsud Douza, sebagaimana dikabarkan Reuters.

Dalam kebijakan lockdown yang mulai berlaku pada Kamis (20/5/2021), para pengungsi tidak diizinkan berkumpul dan melakukan pergerakan antarkamp di Cox's Bazar. Hanya beberapa layanan penting yang diizinkan beroperasi. Douza juga menyebut, pihaknya belum memutuskan kapan akan mencabut kebijakan ini.

Pergerakan relawan di kamp-kamp itu juga sangat dibatasi. Hanya relawan di bagian kesehatan dan distribusi makanan yang boleh memasuki  kamp-kamp yang terkena pembatasan.

Sementara itu, di Bangladesh, berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO per Ahad (23/5/2021), tercatat ada 787.726 kasus positif Covid-19-dengan diikuti 12,348 kasus kematian-sejak virus ini mulai merebak di Bangladesh pada Maret tahun lalu.[]