Keadaaan dan Beban Ekonomi Guru TPQ Ustazah Tuti

Ustazah Tuti harus menjadi kepala keluarga untuk delapan anaknya. Tiga kontrakan yang disewa saat ini menunggak akibat pendapatannya berjualan daring merosot.

ustazah tuti rahmawati
Ustazah Tuti saat menerima bantuan biaya hidup dan perlengkapan ibadah dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Beban ekonomi Ustazah Tuti Rahmawati kian berat. Setelah sang suami wafat, Tuti harus berjuang seorang diri menghidupi delapan orang anaknya. Kegiatannya menjadi guru mengaji TPQ Al-Furqon, di Kampung Pabuaran Wetan, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Bogor dilakukan tanpa keuntungan materi. 

Ustazah Tuti merupakan pendiri TPQ Al-Furqon. Semua anak yang mengaji tidak dipungut biaya. Para guru yang mengajar di dalamnya juga tidak diberi gaji dan murni mengabdi. 

“Insyaallah semua guru di sini ikhlas. Semata-mata agar anak-anak bisa mengaji dan mengerti Islam. Jika keberatan (tidak digaji) atau ada kegiatan lain juga bilang dan mengundurkan diri,” kata Ustazah Tuti, Jumat (3/9/2021).

 

Selain harus menanggung biaya hidup delapan anaknya, Ustazah Tuti juga harus membayar kontrakan tempat tinggal. Untuk menampung keluarganya, Ustazah Tuti menyewa tiga kontrakan sekaligus. 

“Kalau satu tidak muat, berdesakan. Beberapa bulan ini kontrakkan masih nunggak karena pemasukan menurun akibat pandemi Covid-19 ditambah adanya kebijakan PPKM,” ujarnya. 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ustazah Tuti menjual pakaian di pasar daring. Keuntungan yang didapat tidak menentu. “Orang dagang itu enggak pasti (keuntungannya). Kadang laku kadang enggak. Yang penting bersyukur,” pungkasnya.[]