Kebahagiaan Aminah dan Dedi Saat Tempati Rumah Baru

Aminah dan Dedi tinggal di rumah yang kondisinya nyaris roboh selama 30 tahun lebih tanpa adanya renovasi besar. Dinding rumah lama mereka hanya berbahan bilik bambu yang telah lapuk termakan usia. Kebahagiaan pun hadir tatkala mereka menempati rumah yang telah direnovasi oleh ACT Tasikmalaya.

Dedi di depan rumahnya yang sedang dibangun ulang oleh ACT Tasikmalaya. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA – Bahagia tersirat dari wajah Aminah (50) dan Dedi (58), pasangan suami istri asal Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (13/7). Hal tersebut sangat berbanding terbalik saat tim ACT Tasikmalaya menemui mereka Januari 2020 silam. Kebahagiaan Aminah dan Dedi tak lepas dari pembangunan rumah mereka yang sedang dilakukan ACT sejak awal pekan ini. Dalam beberapa hari ke depan rumah tersebut akan selesai dan siap dihuni.

Aminah dan Dedi merupakan suami istri yang sebelumnya tinggal di rumah yang kondisinya nyaris roboh. Mereka mengaku telah tinggal di sana 30 tahun lebih tanpa adanya renovasi besar. Dinding rumah lama mereka hanya berbahan bilik bambu yang telah lapuk termakan usia. Kondisi ekonomi yang lemah menjadi alasan utama tak adanya perbaikan rumah.

Dedi sendiri merupakan seorang gorengan keliling. Pendapatannya tak terlalu besar, dan itu merupakan satu-satunya sumber pemasukan. Sedangkan sang istri, Aminah, saat ini hanya berbaring lemah di rumah yang tak layak huni itu. Lima tahun terakhir Aminah mengalami strok yang memaksa dirinya tak bisa banyak melakukan aktivitas, termasuk membantu suami mencari nafkah. Dedi dan Aminah juga memiliki anak yang kondisi ekonominya tak jauh berbeda dengan mereka.

Rumah Dedi dan Aminah merupakan satu dari jutaan rumah tak layak huni di Indonesia.  Pada tahun 2015, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat ada 3,4 juta unit rumah tidak layak huni. Sedangkan pada akhir tahun 2018 jumlahnya berkurang menjadi 2,1 juta unit. Pemerintah menargetkan akhir 2019 lalu jumlahnya bisa terus berkurang hingga berada di angka 1,9 juta. Walau jumlah rumah tak layak huni terus berkurang tiap tahunnya, jumlahnya yang masih mencapai jutaan dibarengi dengan ketidakmampuan pemilik rumah untuk memperbaikinya akan menjadi permasalahan tersendiri.

“Alhamdulillah, haturnuhun saya ucapkan atas kepedulian bapak dan ibu yang membantu mewujudkan rumah ini menjadi layak. Semoga Allah balas semua kebaikan bapak ibu dan semua tim ACT Tasikmalaya. Saya tidak bisa membalasnya hanya bisa mendoakan,” ungkap Dedi penuh haru.

Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki tujuh kriteria untuk bisa menyebut sebuah rumah dikatakan tidak layak huni. Pertama ialah luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per orang, lalu jenis lantai bangunan terbuat dari tanah, bambu, atau kayu murahan, kemudian jenis atap dari bambu atau rumbia, alang-alang, atau genting tanah kualitas murah. Selanjutnya rumah tidak memiliki fasilitas buang air besar atau bersama-sama dengan rumah tetangga lain, serta sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik. Terakhir, sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tidak terlindung atau sungai atau air hujan.

ACT sendiri telah berikhtiar melalui berbagai programnya untuk memperbaiki kondisi rumah masyarakat yang tak layak huni. Perbaikan tersebut menyasar warga yang ekonominya lemah, khususnya lansia. Di Tasikmalaya, ACT telah membantu merenovasi 9 rumah warga prasejahtera sejak 2019.

“Perbaikan rumah merupakan salah satu ikhtiar ACT untuk menciptakan rasa nyaman hidup masyarakat prasejahtera. Tentunya, hal ini tak lepas dari peran masyarakat yang ikut membantu. Insyaallah program ini akan terus berlanjut dengan dukungan kepedulian dari berbagai elemen masyarakat,” jelas Muhammad Fauzi Ridwan dari Tim Program ACT Tasikmalaya, Kamis (16/7).[]