Kebahagiaan Ety ketika Sumur Wakaf Permudah Kegiatannya

Seringkali Ety (30) kesulitan dalam memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, terutama saat musim kemarau tiba. Ia terkadang membeli saat sama sekali tak menemukan air. Global Wakaf - ACT membangun satu unit Sumur Wakaf di salah satu sudut rumahnya untuk mempermudah kegiatannya sehari-hari.

Kebahagiaan Ety ketika Sumur Wakaf Permudah Kegiatannya' photo
Ety semringah menunjukkan Sumur Wakaf yang baru dibangun di rumahnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BEKASI – Ety (30) semringah menunjukkan Sumur Wakaf Keluarga yang baru saja selesai di rumahnya. Kini ia bisa melakukan kegiatan mandi dan mencuci, di sudut rumah. Sebelumnya air keluar sangat sedikit di rumahnya sehingga ia mesti menumpang ke rumah orang tua ataupun tetangganya.

“Biasanya kalau air udah mulai susah, ngambil di rumah tetangga atau ngambil di masjid dan beli juga airnya, memang sering banget kekeringan,” kata Ety pada Ahad (5/7) lalu.

Sesekali jarak sekitar 100 sampai 200 meter menuju masjid mesti ditempuhnya juga demi mendapatkan air bersih. Biasanya ia menenteng 3 jeriken besar dan persediaan itu akan dimanfaatkannya sebisa mungkin untuk memenuhi kebutuhan air sekeluarganya per hari.

“Biasanya ambil 3 jeriken juga sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Biasanya bisa mandi, mencuci, atau paling sedikit terpakai buat memberi minum ternak,” kisah Ety.

Lain cerita saat musim kemarau berkepanjangan. Ia kadang ikut mengantre bersama warga lain di rumah salah satu warga atau masjid yang memilikki sumur dalam. Jika sudah tidak kebagian, mau tidak mau Ety membeli air seharga Rp3 ribu untuk satu jeriken.


Kandang ternak di belakang rumah Ety. (ACTNews/Reza Mardhani)

Terkadang ia juga mesti berhenti dari salah satu pekerjaannya ketika musim kemarau panjang datang. Selain mengurus ternak, Ety juga bekerja sebagai buruh kebun. Sehari-harinya ia memetik bayam dan mendapatkan upah seribu rupiah per ikat. Tetapi penghasilan tambahan itu hilang saat kemarau, bersamaan dengan keringnya lahan si tuan tanah.

“Biasanya menggarap lahan orang, biasa diupah seribu rupiah per ikatnya. Lumayan kan buat tambahan. Tapi kan di sini tadah hujan. Kalau kemarau panjang, ya lahannya kering semua,” ungkap Ety.

Hal tersebut diakui juga oleh Ustaz Agus (31) selaku Koordinator Sumur Wakaf di Desa Sukatenang. Mayoritas warga di sana bekerja sebagai buruh tani, sementara sawah ladang yang mereka garap adalah tadah hujan. Sehingga tak heran, musim tanam di Kampung Babakan hanya satu tahun sekali.


“Kalau sudah benar-benar kemarau panjang dan kering, ya sudah lahannya ditinggal saja. Warga pada pergi cari kerja yang lain. Paling banyak serabutan atau berdagang, entah ke Jakarta atau ke tempat lain,” cerita Ustaz Agus.

Global Wakaf – ACT berikhtiar meredam krisis air di Kampung Babakan. Sebanyak 28 keluarga menerima Sumur Wakaf di saat menjelang musim kemarau ini. “Di mana satu Sumur Wakaf tidak hanya digunakan untuk satu keluarga, tetapi bisa dipakai lebih dari satu bahkan dua kepala keluarga,” kata Ustaz Agus.

Ety yang menjadi salah satu penerima manfaat bersyukur pada hari itu atas hadirnya Sumur Wakaf. Dengan adanya Sumur Wakaf ini, ia jadi lebih mudah melakukan kegiatan mencuci maupun sanitasi di rumahnya.

“Alhamdulillah, saya girang dapat sumur ini. Bisa berguna ketika mencuci piring, mencuci baju, dan ambil air wudu. Ada juga tetangga saya yang memanfaatkan di sebelah rumah. Kadang-kadang kan anak tetangga yang mandi atau ambil air wudu juga bisa di sini,” ujar Ety. []


Bagikan