Kebahagiaan Kurban di Wilayah Terisolir Pulau Buru

Kebahagiaan Kurban di Wilayah Terisolir Pulau Buru

ACTNews, BURU – Perahu kecil, yang orang Buru biasa menyebutnya jonson, mengantarkan kami menuju lokasi penyembelihan hewan kurban di hari Idul Adha 1438 H, Jumat (1/9). Tampak cuaca mendung menyelimuti langit, kala kami bersiap-siap berangkat dari Kota Namlea, ibu kota Kabupaten Buru.

Kawasan ini kita kenal dalam sejarah sebagai daerah pengasingan tahanan politik pada masa Orde Baru. Salah satu tahanan politik yang pernah diasingkan di sini adalah penulis novel terkemuka Pramudya Anata Toer. 

Dari Kota Namlea, kami harus menempuh perjalanan laut selama 1,5 jam. Jonson membawa kami melintasi lautan Buru. Lima menit perahu kecil ini melaju, langsung disambut hujan deras. Seluruh Tim Global Qurban pun basuh kuyup selama perjalanan dari Kota Namlea ke Desa Pela, Kecamatan Bata Bual. Namun, cuaca buruk tersebut tak menghalangi semangat kami untuk menjalankan amanah dari para pekurban ini.   

   

“Kalau sedang musim angin timur, warga di 2 kecamatan (Kecamatan Batu Bual dan Teluk Kayeli). Di sana tidak bisa melewati jalur laut ini, Bang, karena gelombang ombaknya besar, membahayakan! Kalau sudah seperti itu, warga di sana pun terisolir tidak bisa kemana-mana,” tutur Bahrum Makatita (32), relawan lokal GQ.

Ya, faktor transportasi inilah salah satu kendala terbesar warga di dua kecamatan tersebut. Di sana, mayoritas warga bermatapencaharian sebagai petani (70 persen). Sementara sisanya mencari nafkah sebagai nelayan dan berternak. Mereka sangat mengandalkan transportasi laut dan kondisi alam.  

Biasanya, mereka bisa menggunakan jonson di musim angin barat. Saat musim angin timur, warga tak berani menyeberang laut menuju Kota Namlea untuk menjual hasil panennya. Kalau sudah seperti itu, mereka terpaksa ‘gigit jari’ karena tidak mendapatkan uang. Hasil panen mereka gagal untuk dijual.          

Keadaan tersebut juga dirasakan warga dua kecamatan lainnya yang bekerja sebagai nelayan. Selama musim angin timur, mereka praktis tidak bisa mencari ikan di laut. Sebagai alternatif, mereka mencari nafkah dengan bertani atau bekerja serabutan.

   

Sebenarnya akses menuju kota bisa dilakukan melalui jalur darat. Namun, karena akses tersebut rusak belum ada proses pengaspalan (bahkan minus jembatan!), maka kalau ingin menggunakan jalur darat ini harus melintasi sungai kecil. Sehingga, kalau musim hujan datang, jalur darat dengan kontur yang berbukit tersebut sulit untuk dilalui.

Bahrum lalu bercerita, sejak ia masih sekolah dasar sampai dengan saat ini, belum ada pembangunan akses jalan di sana. “Padahal, sudah berapa kali warga di dua kecamatan itu meminta pemerintah setempat segera membangun jalur tersebut,” keluhnya.       

Buruknya akses jalan ini tidak hanya mempengaruhi ekonomi warga di Kecamatan Batu Bual dan Teluk Kayeli dalam menjual hasil alamnya ke kota. Hal ini juga berdampak domino terhadap sendi kehidupan lainnya, seperti akses kesehatan dan akses pendidikan. Puskesmas dan sekolah-sekolah di dua kecamatan tersebut, sangat kurang memadai dibanding sekolah yang berada di Namlea.      

Di hari pertama implementasi kurban, kami memprioritaskan daerah terisolir tersebut. Tiga hari tasyrik berikutnya akan menyasar wilayah terpencil lainnya di Pulau Buru.   

Rencananya, GQ akan menyembelih 300 sapi di 11 titik (kecamatan). Sebelas titik ini meliputi 10 titik di Kabupaten Buru dan 1 titik di Kabupten Buru Selatan.

Menurut Abdul Latif Khair (36) selaku Koordinator GQ, masyarakat yang menerima daging kurban sangat antusias dan senang. Bagi mereka, daging adalah lauk yang jarang sekali menjadi menu konsumsi harian.

Sudah tiga tahun lamanya GQ menebar kebahagiaan kurban di pulau Buru. Jumlah hewan kurban yang disembelih di Pulau Buru ini pun setiap tahunnya mengalami peningkatan.     

“Hampir sebagian masyarakat desa di wilayah Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan bisa menikmati daging kurban karena kuotanya banyak. Tahun 2015, ada 150 ekor sapi yang disembelih. Tahun berikutnya 200 ekor dan tahun ini 300 ekor sapi. Alhamdulillah, Global Qurban terus memberikan manfaat lebih luas di Pulau Buru,” ungkapnya penuh syukur.

Salah satu lokasi implementasi GQ digelar di Desa Pela, Kecamatan Bata Bual yang merupakan kawasan rentan bencana tsunami, banjir bandang, dan longsor. Pada 2006, daerah ini pernah tertimpa tsunami. Warga Desa Pela yang tinggal di sekitar pantai terpaksa seluruhnya harus direlokasi.

          

Hal tersebut diakui Adam Kaw (45), salah satu warga Desa Pela. Ia mengungkapkan desanya memang kawasan rentan bencana tsunami, banjir, dan longsor. Saat bencana tsunami tahun 2006, ia bersama warga lainnya sempat terkatung-katung di pengungsian selama 6 bulan sebelum pemerintah daerah memutuskan untuk merelokasi warga Desa Pela.

“Alhamdulillah, selama 3 tahun ini kami selalu menikmati daging sapi dari Global Qurban. Kami mewakili warga mengucapkan banyak terima kasih. Sebelum ada Global Qurban, sebagian warga Desa Pela tidak bisa menikmati daging kurban. Hanya sebagian kecil saja yang bisa menikmati daging kurban berupa kambing 2 ekor saja,”  pungkasnya penuh rasa syukur. []                        

Tag

Belum ada tag sama sekali