Kebahagiaan Ramadan Hadir di Pusat Konflik Mali

Sebanyak 400 orang hadir di sebuah masjid di Kota Bamoko hari itu untuk mnikmati sajian iftar dari ACT.

ACTNews, BAMAKO - Sebuah masjid di kota Bamako, Mali hari itu, hampir penuh sesak dengan orang-orang yang duduk bersila di lantai. Mereka saling mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya, sesekali bercanda, menghabiskan waktu menjelang Magrib bersama. Kebahagiaan mereka seolah-olah melupakan bahwa negeri mereka kerap dilanda konflik internal.

Ketika azan berkumandang, tiap orang langsung mengambil kudapan, sesekali menyesap air di gelas yang telah disediakan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Senin (27/5) itu. Nikmatnya iftar begitu terasa, setelah menjalankan puasa di suhu yang cukup tinggi, yakni sekitar 39 derajat Celsius.


Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT mengungkapkan sekitar 400 orang hadir dalam kegiatan tersebut. Selama empat hari iftar bersama, yakni dari Ahad (26/5) sampai Rabu (29/5), Faradiba memperkirakan sekitar 1.600 orang mengikuti iftar bersama.

“Jadi satu hari itu kita bisa bagikan sampai 400 paket, dan semua penerima manfaatnya itu kita khususkan pada masyarakat miskin, jemaah masjid, dan tentunya pengungsi akibat dari konflik internal di sana. Alhamdulillah, kebahagiaan Ramadan tak luput menyapa warga di pusat konflik itu,” ujar Faradiba pada Jumat (31/5).


Konflik yang dimaksud adalah konflik antarkomunitas yang sering memanas di Mali. Perwakilan PBB di Mali (MINUSMA) menyebutkan 488 orang meninggal semenjak Januari 2018 lalu akibat konflik internal yang terjadi di Kota Mopti Tengah dan Kota Segou.

The Washington Post menyebutkan, dampak dari konflik ini adalah sulitnya pembangunan di Mali. Padahal sebelumnya, demokrasi di Mali cukup baik, demikian juga ekonominya yang stabil dan Mali berkembang dengan cukup bagus. Tetapi perkembangan tersebut terhenti semenjak adanya kudeta pada tahun 2012 yang berdampak pada ketidakstabilan ekonomi hingga berkembang menjadi konflik internal di negara tersebut. []