Kebaikan Global Zakat-ACT Menyapa Siswa di Pedalaman Mentawai

Kebaikan Global Zakat-ACT Menyapa Siswa di Pedalaman Mentawai

Kebaikan Global Zakat-ACT Menyapa Siswa di Pedalaman Mentawai' photo

ACTNews, MENTAWAI – Di Pulau Pagai Utara yang masuk dalam gugusan Kepulauan Mentawai , Provinsi Sumatera Barat masih terdapat warga dengan pendidikan yang rendah. Sarana sekolah mereka masih minim, khususnya pendidikan keislaman. Anak-anak di sekitaran pulau Pagai harus merantau ke Kecamatan Sikakap untuk melanjutkan sekolah Islam.

Merespons keadaan itu, Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program Tepian Negeri pada Sabtu (23/3) menyerahkan bantuan berupa paket pangan ke Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Darul Ulum, Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Mentawai. Bantuan yang diberikan berupa  30 paket pangan untuk para siswa dan guru di MAS Darul Alam.

Apiko Joko Mulyono dari tim Global Zakat-ACT mengatakan, bantuan diberikan karena mengingat MAS Darul Alam adalah satu-satunya sekolah tingkat menengah atas yang berbasis keislaman. Siswa yang bersekolah juga merupakan anak-anak prasejahtera asal Pagai Utara.

“Berawal dari zakat yang diberikan mitra ACT, bantuan dikonversi dalam bentuk paket pangan untuk mereka,” jelas Apiko, Sabtu (23/3).

Selain paket pakan yang berisikan sembako untuk kebutuhan sehari-hari, Global Zakat-ACT juga menyalurkan beasiswa pendidikan kepada 24 siswa MAS Darul Ulum. Mereka mendapatkan beasiswa tunai untuk menunjang keperluan hidup mereka saat sekolah di madrasah yang baru berdiri dua tahun lalu.

Kepala Sekolah MAS Darul Ulum Iswandi mengatakan, adanya bantuan dari Global Zakat-ACT sangat membantu proses belajar-mengajar para siswanya. “Siswa MAS ini ada 24 orang, mereka berasal dari pedalaman Mentawai semua. Bantuan dari Global Zakat-ACT sangat membantu, mengingat siswa juga tinggal di sini dengan biaya makan dari iuran tanpa paksaan,” jelasnya.

Merantau untuk sekolah

Saat ini, tercatat sebanyak 24 siswa yang sedang menempuh pendidikan tingkat atas di MAS Darul Ulum. Hampir semuanya datang dari dusun yang ada di pedalaman Mentawai. Fasilitas pendidikan islam yang umumnya hanya sampai kelas tiga sekolah dasar, membuat mereka harus pergi ke Sikakap untuk melanjutkan sekolah.

Iswandi mengungkapkan, perjuangan siswa untuk bisa mendapatkan pendidikan sangat berat. Untuk bisa mencapai sekolah dari dusun tempat tinggal mereka,  para siswa harus menyusuri sungai di pedalaman Mentawai. Setelah itu mereka harus menempuh perjalanan dengan perahu yang menempuh waktu satu jam perjalanan. Perjalanan lewat laut itu harus dilakukan karena tidak ada akses darat.

“Mereka juga termasuk anak dari orang tua yang tinggal di dusun muslim di sekitaran Pagai Utara. Sangat jarang sekolah berbasis Islam di Mentawai, sehingga merantau ke Sikakap menjadi satu-satunya cara untuk mereka yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah dengan latar belakang islam,” pungkas Iswandi. []

Bagikan