Kebakaran Hanguskan Perkampungan Suku Badui di Lebak

Selain rumah warga, kebakaran juga ikut menghanguskan saung lisung dan 75 lumbung padi milik warga sekitar.

ACTNews, LEBAK - Sebanyak 38 rumah di Kampung Kadu Gede, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, hangus terbakar. Akibat dari kebarakan yang terjadi pada Kamis (12/9) lalu ini, dua warga mengalami luka ringan. Sementara sekitar 172 jiwa yang merupakan Suku Badui terdampak, kini tinggal di rumah-rumah sementara yang beratapkan terpal.

Kata Ramin, salah seorang warga yang tinggal di kampung itu, api pada awalnya berasal dari rumah salah seorang warga. Api sempat coba dipadamkan oleh lima orang warga yang sedang meronda. Namun, lama-kelamaan api semakin besar dan mereka menyerah.

“Awalnya api masih kecil, namun diburu (dipadamkan) oleh lima warga yang sedang ronda. Namun tidak kuat, api makin besar lalu ditinggalkan. Warga lainnyai sedang tidak ada di rumah masing-masing, melainkan sedang di kebun. Mereka pulang dan sampai kerumah di jam lima sore karena lumayan jauh,” ujar Ramin, Sabtu (14/9). Sementara kejadian tersebut terjadi pukul sekitar setengah satu siang.

Selain menghanguskan puluhan rumah, informasi sementara menyatakan satu saung lisung dan 75 lumbung padi terbakar. Berbeda dengan kebakaran rumah yang dapat dipadamkan dalam hitungan jam, Siti Nurkhafsah dari tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan berdasarkan penuturan warga, lumbung padi yang terbakar sendiri membutuhkan satu minggu pemadaman.


“Kata warga karena itu lumbung, jadi butuh satu minggu untuk memadamkannya. Jadi akan ada usaha pemadaman terus hingga satu minggu ke depan. Sementara pihak-pihak yang sudah berusaha memadamkan ada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak, TNI, dan Polri,” kata Siti, Sabtu (14/9).

Keadaan makin dipersulit oleh kondisi lapangan. Siti menceritakan, cuaca yang masih dalam musim kemarau panjang dan kondisi lumbung yang berada di atas bukit membuat api yang ada di lumbung masih terus menyala. Belum lagi jalan yang cukup jauh sehingga menyulitkan bantuan masuk ke sana.

“Kita dari Panimbang kurang lebih empat jam untuk sampai desanya. Dan untuk ke lokasi terdampaknya sendiri mesti berjalan kaki dengan medan yang menajak dan berbatu sepanjang satu kilometer,” kata Siti.


Tim Mobile Social Rescue (MSR) - ACT pada Sabtu lalu telah mendatangi lokasi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak. Rencananya dalam waktu dekat, tim juga akan memberikan bantuan logistik kepada mereka.

“Tim MSR-ACT membawa obat-obatan dan mengadakan pelayanan kesehatan di sana. Dan untuk besok rencananya kita akan memberikan bantuan logistik kepada warga yang terdampak dari kebarakan tersebut,” kata Siti. []