Keberhasilan Wakaf Dorong Kesejahteraan Dinasti Utsmaniyah

Wakaf di zaman Dinasti Utsmaniyah menjadi salah satu instrumen penting dalam perekonomian. Dengan pengembangan wakaf yang profesional, saat itu hasilnya bisa membiayai berbagai kepentingan masyarakat.

wakaf turki utsmani
Manuskrip akta wakaf Masjid Hagia Sophia sampai sekarang pun masih tersimpan. (REUTERS/Murad Sezer)

ACTNews, JAKARTA – Wakaf menjadi salah satu instrumen penting pada zaman Dinasti Utsmaniyah (1299–1922M). Dana wakaf digunakan bagi pembangunan kesejahteraan masyarakat mulai dari pendidikan, dakwah, hingga infrastruktur. Pengelolaannya pun dikoordinasikan dengan kementerian negara.

Menurut Profesor Murat Cizakca dari Fatih University, Turki, ada dua bentuk wakaf yang populer saat itu. Pertama adalah wakaf uang dan jenis lainnya berbentuk tanah atau properti. Wakaf tunai saat itu diinvestasikan di sektor properti, sementara wakaf tanah dan bangunan biasanya disewakan kembali untuk mendapatkan dana tunai. Demikian menurut Murat melalui tulisannya berjudul Ottoman Cash Waqf Revisited: The Case of Bursa.

Kalangan dengan ekonomi menengah juga berkontribusi mewakafkan pabrik, toko, atau hotelnya. Setiap akhir tahun, keuntungan atau dividen dari aset itu diberikan kepada orang-orang fakir yang membutuhkan. Para pengusaha juga banyak yang mewakafkan lahan atau bangunannya menjadi karavanserai atau han yang merupakan tempat penginapan untuk para musafir.

Prof Bahaeddin Yediyildiz dan Nazif Ozturk dalam artikel “The Habitable Town and the Turkish Waqf System” (1996) mengatakan, kesejahteraan yang dicapai Turki saat itu ditopang juga oleh kemampuan negara meluaskan wakaf. Para sultan mempraktikkannya dan membuat kebijakan yang mendorong perkembangan wakaf.


Hasilnya, setiap warga Turki kala itu dapat menggunakan berbagai fasilitas secara gratis. Sejak lahir hingga akhir hayat, mereka tidak mesti mengeluarkan uang untuk bisa mendapatkan pelayanan publik.

Pemberi wakaf merasakan kebahagiaan karena memberi, penerima tentram karena kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kebahagiaan itu kolektif, merangkul semua masyarakat tanpa adanya konflik dan mengurangi kesenangan satu sama lain. Begitu kira-kira Yediyıldız dan Öztürk menggambarkan.

Mereka memberikan satu contoh yakni Kulliye, yang merupakan sebuah kompleks bangunan yang didirikan dari dana wakaf. Di dalamnya terhimpun berbagai macam kebutuhan publik, semisal dapur umum, toko makanan, pemandian, dan sebagainya. Siapapun dapat menikmatinya secara gratis. Penamaan kompleks tersebut berasal dari kata bahasa Arab, kullu, yang berarti 'seluruhnya'. Itu menunjukkan pemanfaatan dari area hasil wakaf itu.

Bukan hanya manusia yang merasakan manfaat ini, hewan pun turut menikmatinya. Misalnya wakaf Pasar Koza Han yang hasilnya dipakai membiayai operasional Masjid Agung Bursa. Salah satu lokasinya dipakai memberi makan kucing, burung, dan anjing yang kerap ditemui di jalan-jalan kota. Ini sejalan dengan tradisi masyarakat Turki yakni menaburkan gandum di puncak-puncak bukit tiap musim dingin tiba. Tujuannya adalah memberikan makan burung-burung yang kelaparan.


Kebijakan itu tak hanya berpusat di kota. Contohnya di Balkan, semenanjung Eropa yang ditaklukkan Utsmaniyah nyaris seluruh pembangunan diselenggarakan dari wakaf. Prof Halil Inalcik dalam buku The Ottoman Empire: The Classical Age 1300-1600 (2000), ratusan bangunan berdiri dengan pengelolaan wakaf. Di Bosnia misalnya, daftarnya mencakup sebanyak 232 perumahan, 18 karavanserai, 32 hostel, 10 pasar, dan 42 jembatan.

Semua gratis. Dalam waktu relatif singkat, masyarakat setempat berduyun-duyun masuk Islam. Melonjaknya jumlah Muslimin di sana terjadi hanya dalam dua dekade pertama sejak Utsmaniyah berkuasa. Sultan sendiri tidak memaksakan mereka untuk memeluk Islam. Penguasa cukup menghadirkan penerapan syariat Islam yang berprinsip rahmatan lil alamin.

Selama lebih dari enam abad, wakaf telah menjadi sebuah tradisi sekaligus fondasi dalam Dinasti Utsmaniyah. Pemerintah pun menyambut tingginya minat rakyat, terutama yang berkecukupan, untuk menunaikan wakaf. Lembaga amil wakaf setempat pun selalu profesional dan para nazir dapat terus mengawasi operasionalnya.

Negara ikut menjamin keamanan aset ini. Buktinya bahkan bisa ditemukan sampai sekarang. Dokumentasi akta wakaf terus terjaga selama berabad-abad di berbagai kantor mahkamah Utsmaniyah. Umpamanya, manuskrip akta wakaf Masjid Hagia Sophia, Masjid Fatih, serta dapur-dapur umum atau tempat-tempat penginapan yang diwakafkan Sultan Suleiman al-Qanuni. Begitu pula dengan data wakaf yang bertebaran di Balkan dan Siprus. Semuanya tersimpan rapi dan masih dapat dilihat sampai kini.[]