Keberlanjutan Aksi Kebaikan di Era Normal Baru

Jumlah penerima manfaat bantuan pangan dari ACT sejak pandemi masuk Indonesia telah mencapai jutaan jiwa. Jumlah tersebut bukanlah tentang besarnya penerima manfaat, akan tetapi menjadi cerminan besarnya dampak pandemi yang tak kunjung mereda.

Keberlanjutan Aksi Kebaikan di Era Normal Baru' photo
Tim ACT (kanan) menyerahkan bantuan beras ke salah satu warga Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bantuan tersebut merupakan bagian dari penanganan dampak pandemi Covid-19. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Di tengah terus meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19, Indonesia perlahan menerapkan era kenormalan baru. Pasar, pusat keramaian, transportasi mulai membuka operasionalnya kembali. Protokol kesehatan diberlakukan bagi semua orang yang melakukan aktivitas di luar rumah. Banyak warga yang kemudian berbondong-bondong melanjutkan kehidupan seperti sedia kala. Akan tetapi, hidup di era kenormalan baru tetap saja tak sama seperti dulu, banyak hal yang berubah, termasuk kondisi ekonomi.

Indonesia, setelah beberapa waktu lalu menyatakan bahwa tingkat kemiskinannya berada di bawah 10 persen, kini harus menerima kenyataan bahwa kemiskinan terancam meningkat. Beberapa lembaga survei menyebut, persentasi penduduk miskin di Indonesia akibat pendemi bisa menjadi 10 hingga 12 persen. Jumlah tersebut disumbang dari fenomena menurunnya perekonomian, pembatasan aktivitas, hingga pemutusan hubungan kerja karena pandemi corona.

Sejak pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia pada Maret lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) senantiasa melaksanakan berbagai aksi kemanusiaan. Mulai dari sosialisasi kesehatan oleh tim medis ACT, juga memasifkan pemenuhan pangan bagi masyarakat, khususnya mereka yang terdampak pandemi Covid-19. Aksi kemanusiaan ini pun terus berlanjut hingga saat ini untuk terus mendampingi masyarakat yang tak kunjung membaik ekonominya.

Presiden ACT Ibnu Khajar mengatakan, hadirnya berbagai bantuan dari ACT merupakan ikhtiar dalam menanggulangi dampak pandemi yang terjadi secara nasional, bahkan global. Kebutuhan pangan saat ini sangat diperlukan, hal tersebut mengacu pada kondisi di mana banyaknya fenomena PHK serta pembatasan sosial berskala besar yang berdampak pada roda ekonomi. “Pesan yang ingin kami sampaikan melalui bantuan bukanlah besarnya dana masyarakat yang ACT salurkan. Akan tetapi, dampak pandemi ini sungguh dahsyat, mempengaruhi tak hanya sektor kesehatan saja, tapi juga perekonomian,” jelas Ibnu, Selasa (21/7).

Program pemenuhan pangan

Ikhtiar ACT membersamai masyarakat di tengah pandemi ditunjukkan lewat beragam program pemenuhan pangannya. Adalah Humanity Care Line yang hadir sejak pertengahan April lalu dan hingga kini terus mendampingi masyarakat lewat panggilan dan layanan antar beras gratis. Data yang terhimpun, per 17 Juli, melalui Humanity Care Line, ACT telah menyalurkan beras gratis ke lebih dari 1,5 juta jiwa di wilayah yang terjangkau aksi tersebut. Mereka merupakan warga yang tinggal di 13 kota/kabupaten di 3 provinsi, Jawa Barat, DKI Jakarta serta Banten.

Pungki Martha Kusuma sebagai Koordinator Program Humanity Care Line mengatakan, jutaan jiwa yang menikmati beras serta Air Minum Wakaf yang didistribusikan Humanity Care Line berasa dari 251-an ribu keluarga. Program ini pun meluaskan dampak, tak hanya bagi penerima beras saja, tapi juga ojek daring serta relawan yang terlibat. “Hingga hari ini dan seterusnya, Humanity Care Line akan terus menerima panggilan masuk bagi warga yang membutuhkan bantuan pangan,” jelasnya, Selasa (21/7).

Keberlanjutan pemenuhan pangan pun ACT wujudkan lewat Operasi Beras Gratis. Terhitung sejak Maret hingga menjelang akhir Juli ini, telah terdistribusi lebih dari 230 ribu kilogram beras bagi sekitar 43 ribu keluarga di seluruh penjuru Nusantara. Nantinya angka-angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan terus terimplementasinya dana masyarakat. Hal tersebut dilakukan karena perekonomian masyarakat yang hingga kini belum juga normal.

“ACT pun memiliki layanan makan gratis dengan berkolaborasi dengan warung-warung makan sederhana. Sejak Maret sampai pertengahan Juli, ada 432 ribu porsi makanan siap santap terdistribusi,” jelas Sutaryo dari Tim Program ACT.

Di samping kebutuhan pangan, ACT pun mendampingi masyarakat lewat berbagai program lain selama pandemi. Sejumlah program tersebut antara lain disinfeksi yang dilakukan di berbagai daerah, distribusi alat bantuan medis, bantuan modal hingga aksi tanggap bencana yang sekarang ini sedang terjadi di berbagai daerah. Semua aksi kemanusiaan ini merupakan keberlanjutan dari penganan dampak Covid-19 yang berkolaborasi dengan berbagai pihak serta relawan MRI di seluruh penjuru negeri.

Ratusan ribu angka implementasi yang ACT peroleh merupakan cerminan dari besarnya dampak pandemi Covid-19, dan ini belum usai. Ibnu Khajar menambahkan, keberhasilan Indonesia menangani dampak pandemi bergantung pada kedermawanan masyarakat. "Mengapa demikian? Karena menghadapi permasalahan global bukanlah tugas warga yang terdampak saja, akan tetapi semua pihak perlu terlibat, mengambil peran terbaik demi mengurangi dampak pandemi agar tak semakin parah," jelas Ibnu.[]

Bagikan

Terpopuler