Kedermawanan Itu Ada di Hati Masyarakat Aceh

Tanpa pikir panjang, warga Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, langsung bergotong royong membantu pengungsi Rohingya yang akhirnya didaratkan Rabu (24/6) sore itu.

Kedermawanan Itu Ada di Hati Masyarakat Aceh' photo
Pengungsi Rohingya berinteraksi dengan para relawan dari balik jendela gedung milik Imigrasi Kota Lhokseumawe. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, LHOKSEUMAWE Iswadi (40) segera menutup kedai mi miliknya. Lelaki yang lebih terkenal dengan nama Aples Quari itu bergegas mengambil kunci motor dan memacu kendaraannya menuju bibir pantai, sekitar satu kilometer dari tempat ia berada.

Langit memang mendung, Iswadi tau gerimis sebentar lagi turun. Kilat kecil mulai terlihat di langit, namun bukan menjadi alasan penjual mi kerang itu menutup warungnya. "Saya dengar Rohingya dibawa ke daratan," kata Iswadi dengan antusias, saat ditemui ACTNews di Desa Lancok, Senin (29/6).

Sudah dua malam memang, Iswadi mendengar ada "manusia perahu" yang kembali terombang-ambing di lautan. Kabar itu ia terima dari mulut ke mulut warga, terutama para nelayan. Rohingya memang bukan cerita baru. Beberapa kali sudah sekelompok etnis dari Myanmar itu terpaksa masuk perairan Selat Malaka lalu terpaksa tinggal sementara waktu di Aceh Utara.

"Langsung kami bantu, di situ hati kami berkata," kata Iswadi. Menurut warga Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara itu, warga pun mendesak pemerintah untuk membawa pengungsi Rohingya ke daratan. Sebelumnya, hampir dua malam warga menyuplai bantuan makanan dan air ke tengah laut sebelum ada izin untuk Rohingya memasuki daratan Aceh.


Iswadi, warga Desa Lancok, kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. (ACTNews/Gina Mardani)

"Anak-anak dan perempuan itu kondisinya sudah tidak baik. Tak patut saya sampaikan," lanjutnya.

Saat itu, Iswadi pun mengkoordinasi warga yang langsung mengumpulkan uang guna membeli makan untuk orang-orang Rohingya. Masih ingat di ingatan Iswadi, ada sejumlah ibu yang memberikan sumbangan Rp50 ribu. "Saya malah kepikiran, takut. Takut dia (warga penyumbang) tidak bisa makan. Lima puluh ribu itu besar untuk warga sini (Kuala Lancuk)," kata lelaki kelahiran tahun 1980 itu.

Semangat gotong royong dan kedermawanan masyarakat Aceh belum berhenti sampai di situ. Iswadi pun bergegas menuju warung nasi di pinggir. Ia jalan ditemani beberapa warga. Saat ingin membeli seratus porsi dan air minum, pemilik warung yang juga sudah mendengar soal pendaratan Rohingya inisiatif menambahkan separuhnya. "Dia sangat baik sekali," kata Iswadi mengingat Rabu sore itu.

Selain Iswadi, ada juga Aisah. Ia langsung menitikkan air mata ketika harus mengingat kejadian penyelamatan Rohingya di sore menjelang hujan itu. Ibu baya itu iba pada anak-anak dan perempuan yang tampak berjejal di dinding perahu milik nelayan.

"Sangkira ureung agam ube-ube gata neuk, hana that tingat kuh (Seandainya orang laki-laki seusia kalian tidak terlalu kami khawatirkan), apabila tenggelam perahunya, bisa bertahan mengambil apapun di lautan, tetapi itu ada anak-anak kecil," kata perempuan yang telah munib itu, dalam bahasa Aceh.


Aisyah, petani garam warga Desa Lancok, kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupatren Aceh Utara. (ACTNews/Gina Mardani)

Sama seperti sebagian masyarakat Lancok, Aisah adalah petani garam. Kehidupannya yang sangat sederhana tidak menutup nuraninya untuk membantu pengungsi Rohingya yang darurat saat itu.

Kini itikad syedara geutanyoe Lancok kembali disambung para dermawan. Setelah diungsikan di gedung lama Imigrasi Kota Lhokseumawe, ribuan bantuan terus mengalir untuk pengungsi Rohingya. Ratusan orang tiap hari mengantarkan bantuan ke lembaga kemanusiaan yang bertugas. Aksi Cepat Tanggap pun semakin memasifkan ikhtiar dengan menyiagakan empat armada kemanusiaannya: Humanity Food Truck, Humanity Water Truck, Ambulans Pre-Hospital, dan armada pikap dobel kabin.[]


Bagikan