Kedermawanan Menyapa Pulau Long

Bulan November ini, ACT Belitung bersama beberapa pihak berkunjung ke Pulau Long. Melalui program Tepian Negeri Pulau Long diharapakan mampu membangkitkan kondisi pulau yang masuk administrasi Belitung Timur tersebut ke arah yang lebih baik.

pulau long
Tim ACT-MRI Belitung saat tiba di dermaga Pulau Long. (ACTNews)

ACTNews, BELITUNG TIMUR – Bagi sebagian orang, Pulau Long mungkin asing jika dibandingkan dengan Belitung yang telah terkenal dengan keindahan alamnya. Letak Pulau Long sendiri ada di Desa Selingsing, Kecamatan Gantung yang masuk administrasi Kabupaten Belitung Timur. Pulau berpenghuni terkecil di perairan Belitung Timur ini posisinya menghadap langsung dengan Laut Jawa.

Dari Pelabuhan Gantung, jarak Pulau Long lebih kurang 27 mil atau dapat dicapai dengan waktu tempuh 4-6 jam dengan cuaca baik dan gelombang tenang. Akan tetapi, jika cuaca memburuk, waktu tempuh akan lebih lama, bahkan perahu nelayan yang biasa mengantar warga ke Pulau Long memilih tak berlayar.

“Risiko besar jika memaksakan tetap berlayar saat cuaca buruk ke Pulau Long,” ungkap Dian Yudhistira, Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Belitung, Senin (8/11/2021).

Tak hanya akses yang sulit, fasilitas di Pulau Long pun terbatas. Jaringan komunikasi sulit didapatkan. Begitu juga dengan listrik. Pertengahan 2020 lalu, listrik tenaga diesel digunakan untuk menerangi pulau ini, hanya beroperasi pukul 6 sore sampai 6 pagi.

Urusan pendidikan, mayoritas warga Pulau Long hanya sampai tingkat SD saja. Di sana pun, hanya ada SDN 11 Gantung yang menjadi satu-satunya fasilitas pendidikan. Saat ini, ada 28 murid bersekolah dengan enam guru sebagai pengajar, mereka menempati satu ruang kelas untuk dua tingkat dengan fasilitas apa adanya.

“Persoalan lain di Pulau Long ialah sanitasi. Fasilitas MCK dan tempat pembuangan akhir sampah masih minim,” tambah Dian.


Berbagi bahagia dengan anak murid di satu-satunya sekolah di Pulau Long. (ACTNews)

Minim sumber air konsumsi

Ukuran pulau yang tak terlalu luas juga berdampak pada ketersediaan air bersih untuk konsumsi warga Pulau Long. Air yang keluar dari sumur warga rasanya cenderung payau. Sehingga, jika warga ingin menikmati air tawar harus mengambil dari daratan Pulau Belitung, atau, warga mengakali dengan membuat penampungan tadah hujan.

Di Pulau Long, akses kesehatan juga sulit didapat bagi warga yang sakit atau ingin melahirkan.Guna keperluan tersebut, warga harus menyeberang ke Belitung. Jarak yang jauh dengan medan berupa lautan yang tak menentu membuat tak jarang warga wafat dalam perjalanan atau melahirkan di tengah lautan.

“Bahan pangan di Pulau Long juga terbatas, seperti beras, sayur dan buah. Tanah di sana tak memungkinkan untuk bercocok tanam. Sehingga, 90 persen warga memilih menjadi nelayan,” jelas Dian.

Kehadiran ACT di November ini merupakan bagian dari program Tepian Negeri Pulau Long. Menggandeng beberapa pihak, diharapkan program ini mampu membawa perubahan ke arah baik untuk Pulau Long.[]