Kegetiran Warga Bekasi Alami Krisis Air Bersih dan MCK

Titin (45), warga yang tinggal di wilayah tersebut sejak 1997, sudah kenyang mengalami sulitnya akses air bersih dan memiliki MCK yang tidak laik. Ibu dua anak ini bercerita bagaimana ia harus menjalani hari-hari di MCK yang tidak memiliki saluran pembuangan.

Kegetiran Warga Bekasi Alami Krisis Air Bersih dan MCK' photo
Titin, warga Kampung Pemulung Lapangan Ali, Pekayon, Bekasi Selatan, Kota Bekasi menunjukkan MCK yang tergolong tidak laik yang ia gunakan sehari-hari. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

ACTNews, BEKASI – Meskipun tinggal dan menetap di lokasi perkotaan, hal itu tidak menjamin adanya akses air bersih dan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang memadai.  Kondisi ini yang dirasakan oleh warga di kampung pemulung Lapangan Ali, Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. 

Titin (45), warga yang tinggal di wilayah tersebut sejak 1997, sudah kenyang mengalami sulitnya akses air bersih dan memiliki MCK yang tidak laik. Kepada tim Global Wakaf - ACT Bekasi, ibu dua anak ini bercerita bagaimana ia harus menjalani hari-hari di MCK tersebut. MCK yang berukuran sekitar 3x1 meter itu berada di belakang rumahnya. Terbuat dari tumpukan triplek serta beralaskan kayu, area MCK yang digunakan ternyata tidak memiliki saluran pembuangan yang semestinya. 

“Mandi sama nyuci di sini, kalau buang air ya kayu jadi alasnya ini kita angkat aja, sehari-hari begitu,” ujar Titin, Selasa (17/11).

Titin tinggal bersama anak serta suaminya di rumah yang terbuat dari kayu. Untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari, Titin membayar iuran sebulan Rp50 ribu untuk air bersih. Ia pun terpaksa beli air untuk kebutuhan konsumsi. 

“Sehari-hari saya nyari barang bekas, kadang Rp20 ribu untuk seminggu, sehari nyelang itu bisa dapet lima ember. Dicukup-cukupin karena sekarang ini cuma satu sumber airnya yang itu dipakai ramai-ramai,” tambahnya. 

Kegetiran lain juga dirasakan oleh Djasman. Pria yang berprofesi sama seperti Titin ini lebih dulu tinggal di wilayah tersebut. Ia pun bercerita, akses air bersih dan MCK yang memadai menjadi kebutuhan yang genting di tempatnya. Sebab, sebagian besar warga di kampungnya tergolong masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak mampu membuat MCK sendiri. 

“Dulu ada sumur timba, sekarang sudah kering, jadi sekarang pakai pompa bor. Suaranya juga sudah keak-keok, soalnya yang pakai ramai-ramai, mudah-mudahan ada yang peduli untuk bantu membangun sumur sama MCK di sini,” kata pria yang sudah tinggal sejak 1983. 

Sementara itu, Ihsan Hafizhan dari Tim Program Global Wakaf - ACT Bekasi  mengatakan, setelah melihat langsung, kampung tersebut jadi salah satu wilayah yang perlu mendapat bantuan pembangunan Sumur Wakaf. Untuk itu, Global Wakaf - ACT Bekasi berikhtiar mengajak masyarakat luas bersama-sama menyalurkan sedekah terbaiknya agar pembangunan dapat terealisasi. 

“Setelah kami lihat di sini, memang seperti yang disampaikan oleh para warga, area ini sangat membutuhkan akses air bersih dan MCK yang layak. Untuk itu kami mengajak masyarakat untuk menunaikan wakaf terbaiknya lewat laman Indonesia Dermawan,” kata Ihsan. 

Bagikan

Terpopuler