Kegigihan Santri Penghafal Al-Qur’an Bangun Pondoknya Sendiri

Hidup dan belajar di tengah kepungan kesederhaan tak membuat santri Pesantren Al-Mumtaza patah semangat. Mereka tetap gigih menghafal Al-Qur’an sambil terus merintis pesantrennya yang dibangun swadaya santri dan dibantu warga sekitar.

santri batang
Suasana belajar di Pesantren Al-Mumtaza saat tempat belajar utama sedang dalam proses pembangunan. (Pesantren Al-Mumtaza/Irham Efendi)

ACTNews, PEKALONGAN Suara lantunan Al-Quran terdengar syahdu dalam bangunan sederhana yang terletak di tengah hutan. Bangunan sederhana tersebut tak lain adalah Pesantren Al-Mumtaza yang terletak di Kabupaten Batang. Tanpa jendela, tak membuat santri patah semangat menghafalkan ayat-ayat Al-Quran dan juga belajar ilmu agama dari bangunan tersebut.

Berbeda dari pesantren lainnya, Al-Mumtaza yang berdiri pada September 2019 ini dibangun sendiri oleh para santrinya. Berawal dari sejumlah anak muda yang mendatangi Irham Efendi, seorang ustaz lulusan Pesantren Gontor yang saat itu baru saja pindah dari Yogyakarta ke Batang. “Saat saya baru sekitar tiga hari pindah ke sini, beberapa anak mendatangi saya dan minta mondok,” kenang Irham Efendi, Kamis (22/4/2021) lalu.

Irham yang sudah beberapa kali merintis pesantren ini sempat kaget, sebab saat itu ia baru pindah dan belum memiliki asrama untuk ditempati para santrinya nanti. Ia pun sempat menyewa rumah untuk dijadikan asrama. Namun, setelah berpikir panjang, Irham kemudian memotivasi para santri untuk merintis pondok bersama-sama.

Pesantren Al-Mumtaza kemudian didirikan di atas tanah wakaf miliki seorang warga yang berada di area hutan. Awalnya, para santri hanya mendirikan rumah panggung dari bambu di atas tanah itu. Bantuan dari masyarakat kemudian menyusul berdatangan, mulai dari semen, kayu, seng, dan bahan bangunan lain. Dengan dukungan tersebut, santri akhirnya dapat mendirikan sebuah bangunan sederhana dengan tiang dan rangkap atap terbuat dari kayu yang memiliki pondasi lebih kokoh dua bulan lalu.

“Kalau kita lebih detail lagi memperhatikan kayu-kayu di bangunan pesantren ini, ada noda cokelat yang menempel. Noda itu merupakan jejak tangan santri yang saat pembanguanan mengangkut kayu dengan tangan kosong kala musim hujan. Kayunya dari Pak Yatmi, salah seorang warga yang menyumbangkan pohon besar miliknya,” tutur Irham.

Sementara santri putra mengurus segala hal yang berkaitan dengan bangunan, santri putri membantu menyiapkan makanan dan minuman. Irham pun menegaskan, pesantren berdiri atas kerja keras dan semangat seluruh santri.

Saat ini, bangunan pesantren yang berdiri belum seperti bangunan layak pakai lainnya. Ketika hujan, air karap tempias masuk ke ruangan. Alhasil, santri harus menggeser karpetnya ke tempat yang tidak terkena air hujan.


Para santri Pesantren Al-Mumtaza yang sedang gotong royong membangun tempat belajar utamanya. (Pesantren Al-Mumtaza/Irham Efendi)

Permasalahan fasilitas di Pesantren Al-Mumtaza tak sekadar bangunan saja. Hingga kini, santri mengalami kesulitan memperoleh air, sebab mereka belum memiliki sumur. Mata air yang jaraknya 100 meter dari pesantren yang selama ini dimanfaatkan. Akan tetapi, jarak yang jauh membutuhkan tegangan listrik besar untuk menghidupkan pompa air otomatis, yang itu artinya membutuhkan biaya tambahan.

“Kalau airnya mati, kadang kegiatan kami harus ditunda dulu. Pernah juga saat itu mau masak buat sahur terus air tiba-tiba mati,” ujar Nurmin yang merupakan salah satu santri putri.

Pesantren Al-Mumtaza sendiri tidak menarik biaya apa pun kepada santrinya. Sehari-hari mereka hidup dalam kesederhanaan dan kegigihan merintis pondok itu bersama-sama demi menghidupkan ilmu agama.[]