Kehadiran Lumbung Beras Wakaf Sejahterakan Petani

Setelah mereka menanam benih, para petani mesti menunggu sekira empat bulan sebelum sawah mereka siap untuk dipanen. Kehadiran Lumbung Beras Wakaf kini mengisi kekosongan aktivitas mereka saat menunggu panen.

Kehadiran Lumbung Beras Wakaf Sejahterakan Petani' photo
Lastri dan Nunu sedang mengemas beras-beras dari Lumbung Beras Wakaf. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani)

ACTNews, BLORA - Lastri dan Nunu asyik mengepak beras. Mereka akan menggeser kantung ke mesin jahit otomatis ketika kantung-kantung beras itu penuh. Kemudian mengulangi lagi pekerjaan mereka dengan kantung-kantung baru.

“Jumlahnya sekitar 650 sampai 700 kantung. Hari ini kita akan selesai karena akan dibagikan buat masyarakat di acara Peluncuran Lumbung Beras Wakaf (LBW), Rabu (4/12) besok,” kata Nunu pada Selasa (3/12) lalu, satu hari sebelum peluncuran LBW di Desa Jipang.

Lastri dan Nunu adalah petani Desa Jipang. Namun menjadi petani berarti bekerja secara musiman. Setelah mereka menanam benih, mereka mesti menunggu sekira empat bulan sebelum sawah mereka siap untuk dipanen.

“Kita kalau di sawah itu kerjanya musiman. Kadang-kadang ada (yang bisa dikerjakan) kadang-kadang tidak,” kata Lastri.

Beras dari LBW juga sebagiannya dimaksudkan untuk kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh ACT. (ACTNews/Reza Mardhani)

Sudah dua tahun belakangan mereka membantu di LBW yang diisiasi oleh Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap (ACT). Hari itu mereka kebagian tugas untuk mengemas beras. Mereka berdua mengaku senang dengan hadirnya LBW di Desa Jipang karena dapat membantu perekonomian mereka.

“Senang dengan adanya LBW di sini. Jadi kami ada pekerjaan ketika menunggu panen. Upah dari LBW per bulannya, bisa untuk bantu-bantu kebutuhan kami sehari-hari. Alhamdulillah, kita terbantu selama dua tahun ini,” jelas Nunu.

Beras produksi LBW juga sebagiannya dimaksudkan untuk kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh ACT. Kegiatan kemanusiaan tersebut ada yang berskala lokal, nasional, hingga global untuk membantu konflik-konflik kemanusiaan seperti di Palestina, Bangladesh (Rohingya), dan Suriah.

“Kita sudah beberapa kali juga mengemas beras ini untuk bencana. Tahun lalu itu pernah kita dapat tugas untuk mengemas beras yang akan dikirim ke Lombok dan juga Palu, Sigi, Donggala yang terkena gempa," ujar Nunu.


Ngadi, salah satu penanggung jawab LBW mengatakan, keberadaan LBW memang dimaksudkan juga untuk memberdayakan masyarakat sekitar, terutama petani. Karena di sela-sela menunggu panen, petani biasanya jarang memiliki aktivitas lainnya.

“Semenjak berdiri pada 2017 sampai saat ini, alhamdulillah LBW telah memberikan banyak kontribusi kepada warga kami. Khususnya ibu-ibu yang tinggal di sekitar LBW ini,” tutur Ngadi.

Hingga kini, ada 40 orang yang bekerja di LBW. Ngadi senang mengetahui bahwa LBW bisa menambah pendapatan para petani yang ada di sekitar Desa Jipang. Sehingga, kemampuan ekonomi masyarakat Desa Jipang juga bisa semakin bertumbuh.

“Semoga kita dapat menambah terus produktivitas kita. Kita ingin produksi lebih banyak lagi, sehingga bisa bermanfaat lebih luas lagi untuk masyarakat maupun penerima manfaat. Harapannya tahun ini kita bisa 20 ton, ke depannya bisa 50 ton atau bahkan seratus ton,” kata Ngadi. []

Bagikan