Kehidupan Mualaf di Pulau Selat Desa Butuh Dukungan Dermawan

Pulau Selat Desa jadi tempat bermukim bagi 45 keluarga. Sebagian besar mereka merupakan mualaf Suku Laut. Kehidupan warga Selat Desa masih sangat prasejahtera, jauh dari akses pendidikan formal, dan membutuhkan pembinaan agama.

Warga Selat Desa membawa air yang diambil dari sumur dekat Musala Taqwa. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BATAM Beberapa tahun belakangan, Muhammad Nadi, seorang Suku Laut yang kini bermukim di Pulau Selat Desa, Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, memeluk agama Islam. Nyaris setiap saat kopiah terpasang di kepalanya. Selawat juga sering terucap dari bibir.

Nadi dan keluarga sempat memeluk agama lain. Bahkan, ketika masih hidup di atas perahu, mereka tidak memiliki agama. “Kami dahulu tinggal di atas perahu yang ditutup kajang (atap). Kami ke daratan kalau memang ada keperluan yang mendesak saja. Pemerintahan saja kami tidak tahu, apalagi Tuhan,” tutur Nadi saat tim ACTNews bertemu dengannya di Selat Desa, Kamis (18/3/2021).

Walau begitu, Nadi mengaku kebiasaan Suku Laut banyak yang mirip dengan ajaran Islam. Sebut saja dalam prosesi kematian serta pernikahan. Maka dari itu, ketika ia mengenal Islam, ia yakin ini merupakan agama terbaik dan merasa nyaman. Ia pun mengajak keluarganya ikut pada agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Ari Anggara, dai yang berdakwah di Pulau Selat Desa menuturkan, pembinaan agama bagi mualaf di rutin dilakukan. Nyaris setiap hari digelar agenda berdakwah melalui berbagai kegiatan, termasuk pengajian untuk anak-anak. Namun, bagi Ari, fasilitas pendukung seperti musala yang nyaman masih dirasa kurang.

“Saya ingin memperkenalkan Islam di Selat Desa ini sebagai agama yang rahmatan lil alamin, apalagi mualaf di sini hadir dari Suku Laut yang sebelumnya percaya dan terbiasa dengan hal-hal lain,” ungkap dai asal Tanjungpinang tersebut, Jumat (19/3/2021).

Kini, Ari tengah mengamban tugas besar. Selain menjadi dai, ia pun ingin meningkatkan derajat mualaf di Selat Desa, termasuk dalam hal ekonomi dan pendidikan. Ari mendorong kreativitas nelayan dalam memanfaatkan potensi laut yang ada untuk memajukan ekonomi. Di satu sisi, dai yang juga memiliki istri seorang mualaf ini berharap, fasilitas pendidikan bagi anak-anak di Selat Desa dapat terpenuhi. Selama ini, untuk bersekolah formal, anak-anak di Selat Desa harus mendayung sampan ke pulau seberang dan melanjutkan dengan berjalan kaki demi tiba di sekolah.

Pulau Selat Desa, tempat tinggal keluarga Nadi dan  44 keluarga lainnya masih serba terbatas. Tidak ada fasilitas kesehatan dan pendidikan. Listrik hanya mengandalkan diesel yang dinyalakan sejak pukul 18.00-22.00 WIB, selebihnya, gelap mengepung pulau yang dihuni oleh para mualaf itu.[]