Kehilangan Keluarga Serta Satu Kaki Tak Hentikan Semangat Hidup Musliadi

Kehilangan satu kaki dan istri serta anak dalam kecelakaan tak membuat Musliadi patah arang. Sempat ia diusir dari kontrakan, digusur ketika berdagang, bahkan dipandang sebelah mata dalam pekerjaan, namun menyerah tak menjadi pilihannya.

Musliadi kini menggarap kebun sayur di pekarangan rumahnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, ACEH BESAR – “Jangankan untuk bulan puasa, untuk persiapan satu hari saja belum ada,” ungkap Musliadi Muhammad Yusuf, ketika ditanya persiapan menghadapi Ramadan. Usaha kerupuk kulit Masliadi baru saja berhenti pada Desember 2020 lalu, modal usahanya habis. Musliadi menggunakan modal itu untuk menafkahi keluarga saat ia menjalani  operasi tulang kaki.

“Biaya rumah sakit memang sudah gratis, namun untuk nafkah keluarga tidak ada jadi harus pakai uang modal,” ujar Musliadi ditemui ACTNews di rumahnya di wilayah Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (2/4/2021).

Laki-laki berusia 40 tahun itu mengalami kecelakaan berkendara pada 2017. Kaki kiri Musliadi harus diamputasi. Ia tidak lagi bekerja dan hanya mengandalkan hasil jualan dari lahan yang di samping rumah tempatnya mengontrak. Musliadi menanam kangkung dan menjualnya Rp15 ribu seikat.


Baru-baru ini, ia belajar mencangkul sambil duduk, bahkan pergi ke pasar sendiri membawa dagangan. “Enggak masalah (pergi sendiri). Yang penting kita mau berusaha. Enggak takut bahaya juga kita tetap hari-hati. Lebih takut  minta-minta setiap hari. Kalau kita berusaha ngapain takut?”

Risma, istri Musliadi, kerap khawatir jika suaminya sendirian berangkat ke pasar. Ia pernah dikabari tetangga bahwa suaminya hampir terjatuh. Risma pun amat menghargai kerja keras suaminya. “Kalau seribu rupiah dibawa pulang sama abang, seribu itu saya terima. Enggak ada pun enggak apa-apa. Yang penting lapar sama lapar, makan nasi sama-sama makan nasi,” ujarnya.

Keluarga itu sebenarnya berharap dapat mengembangkan usaha. Mereka berharap dapat menanam jenis tanaman lain dan berencana berjualan nasi bungkus. Semua demi mimpi-mimpi keluarga. “Harapan kami ingin sekolahkan anak dan punya rumah sendiri. Biar enggak sewa lagi, takut diusir seperti tahun kemarin,” kata Risma menahan tangis.

Tabah dan bangkit

Musliadi pernah kehilangan  istri dan calon bayinya pada kecelakaan motor yang mereka alami tahun 2017. Kaki Musliadi pun harus diamputasi. Sementara hanya ia dan si sulung selamat. Ia pun segera bangkit dari masa kelam itu. Dukungan orang-orang sekitar membanjiri. Ia kemudian menikah lagi pada tahun 2018.


Musliadi (kedua kiri) bersama keluarganya kini. (ACTNews/Reza Mardhani)

Tidak sampai di situ, Musliadi juga pernah diusir dari kontrakan pada tahun 2020 lalu. Ia juga pernah digusur saat berjualan nasi bungkus di dekat Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Pernah juga bekerja sebagai kuli proyek galian sumur dan diberi tanggung jawab untuk mengontrol mesin-mesin, namu hanya digaji separuh dari perjanjian setelah begitu banyak jerih payah yang ia kerahkan pada proyek tersebut.

"Di sana saya hanya dapat gaji Rp400 ribu sedangkan harusnya dapat Rp1,5 juta. Kata bos, dulu, tubuh saya yang tidak sempurna dianggap tidak bisa mengerjakan apapun," cerita Musliadi.

Kisah Musliadi sampai ke Aksi Cepat Tanggap Aceh. Tim Program pun segera melakukan asesmen kepada Musliadi. Relawan Masyarakat Relawan Indonesia-ACT Aceh pun ditugaskan untuk mendampingi Musliadi.

Koordinator Program ACT Aceh Munandar menjelaskan, saat ini ACT Aceh terus menggalakan bantuan untuk Musliadi. ACT juga mendukung kebutuhan pangan Musliadi dalam beberapa periode.

“Kita sempat memberikan bantuan paket pangan melalui Gerakan Sedekah Pangan Nasional untuk Bang Mus (panggilan Musliadi). Dalam waktu dekat, insyaallah, kita juga berencana membantu Bang Mus dengan bantuan modal usaha. Mudah-mudahan, akan lebih banyak dukungan dermawan sehingga kita bisa membantu keluarga Bang Mus dengan lebih maksimal, seperti yang kita tahu, saat ini keluarga mereka masih membutuhkan tempat tinggal dan dukungan untuk pendidikan anak-anak,” terang Munandar.[]