Kehilangan Rumah dan Mata Pencaharian, Cerita Pilu Penyintas Banjir Bandang Malang

Agus menaksir kerugiannya hingga puluhan juta. Ia kini bekerja serabutan sebagai pekerja di kebun orang lain ini, berharap bisa kembali mengumpulkan modal untuk memulai kembali kebunnya sendiri.

penyintas banjir bandang malang
Penyintas banjir di Malang dan Kota Batu kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan.(ACTNews/Rizki Febianto)

ACTNews, MALANG – "Sedih karena bengkel hancur. Namun juga bersyukur karena keluarga enggak kenapa-kenapa. Harta bisa dicari tapi keluarga enggak,” kalimat tersebut keluar dari mulut Supadi (60). Ia lalu berjalan menunjukkan sebidang tanah, tempat berdirinya rumah dan bengkel  sebelum banjir menerjang.

Warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, itu adalah salah satu korban dari bencana banjir bandang Kamis (4/11/2021) awal bulan. Rumah serta bengkelnya yang berada di dekat sungai hancur total,

Saat kejadian, Supadi dan keluarga sudah berada di lokasi yang lebih tinggi. Rumah hanya tinggal tanah. Usai air surut, ia hanya menemukan sejumlah peralatan bengkel. Beberapa motor pelanggan yang hendak direparasi turut raib. 

"Bagaimana ya, bingung saya juga (cara untuk ganti ruginya). Bengkel sudah hancur. Mau kerja apa. Cari uang dari mana. Rencananya mau bikin gubuk sederhana. Mau bikin lagi (bengkel) dari awal. Nanti, nunggu ada rezeki atau ada bantuan," jelas Supadi.


Kembang Cokelat

Sementara itu, sekitar 500 meter dari kediaman Supadi, Agus Mulyono (35) tengah menatap kosong sebuah lahan tanah yang becek. Ia duduk di sebuah area bersemen, bekas rumahnya yang hancur dihantam derasnya banjir bandang.

Meski sedih rumahnya telah hancur, namun pria pecinta tanaman hias ini tak mampu mengalihkan rasa kecewa terbesarnya pada bunga-bunga yang ia tanam di pekarangan depan rumahnya. Bunga dan tanaman hias miliknya yang tak lama lagi siap dijual ikut tersapu arus. Bunga putih dan kuning yang indah, kini mati dan berwarna cokelat usai menyatu dengan tanah dan lumpur.

"Waktu itu saya lagi enggak di rumah. Lagi bantu kirim bunga ke pelanggan. Terus dapat panggilan orang dekat rumah kalau ada banjir bandang. Langsung saya segera pulang. Sampai sini sudah habis semuanya. Rumah sudah seperti ini (hancur). Lahan juga udah tinggal lumpur," cerita Agus.

Agus menaksir kerugiannya hingga puluhan juta. Ia kini bekerja serabutan sebagai pekerja di kebun orang lain ini, berharap bisa kembali mengumpulkan modal untuk memulai kembali kebunnya sendiri.

"Untuk rumah, saat ini belum terpikirkan. Saya berharap ada bantuan untuk membangunnya kembali. Alhamdulillah ada tetangga yang baik, mereka bantu kasih saya beberapa bata walau jauh dari cukup untuk membangun," tutur Agus sambil menunjukkan ke tim ACTNews tumpukan bata putih pemberian tetangganya.[]