Keikhlasan Guru Mengajar di Sekolah dengan Fasilitas Terbatas

Sejak 10 tahun berdiri, MI Matlaul Anwar tak tersentuh renovasi. Dindingnya hingga kini masih terbuat dari bilik bambu dengan atap seng yang akan memanas saat terik matahari.

Keikhlasan Guru Mengajar di Sekolah dengan Fasilitas Terbatas' photo
Kondisi kelas di MI Matlaul Anwar Baros Tanggamus. (ACTNews/Arief Rakhman)

ACTNews, TANGGAMUS – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Matlaul Anwar Baros terletak di pelosok Dusun Way Kandis Pekon, Kampung Baru, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus. Kondisinya sangat memprihatinkan. Sepuluh tahun berdiri, para siswa harus belajar dalam ruang kelas berdinding bambu serta menghirup debu dari lantai tanah.

Atap seng berkarat dengan penyangga kayu rapuh membuat warga sekitar merasa khawatir akan keselamatan anak-anaknya yang bersekolah di sana. Nurhamid, salah satu pendiri sekaligus Dewan Guru MI Matlaul Anwar Baros mengatakan, sebelum berdirinya sekolah tersebut, anak-anak harus berjalan lebih kurang delapan kilometer untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah terdekat. Hal itu membuat sebagian orang tua enggan menyekolahkan anaknya.

“Modal mendirikan sekolah ini sangat minim, bangunannya hanya 15 meter persegi dengan dinding bilah bambu dan atap seng. Tapi pendidikan untuk anak-anak yang jadi semangat kami membangun sekolah ini,” tutur Nurhamid, Selasa (3/12).

Sepuluh tahun berdiri, kondisi sekolah masih serupa bangunan awal. Belum ada sentuhan renovasi berarti. Nurhamid menambahkan, dana habis saat proses pembangunan belum selesai, sehingga sekolah hanya berlantai tanah. Debu berterbangan saat kemarau, dan akan lembab saat musim penghujan tiba. Walau kondisi sekolah serba terbatas, prestasi pernah mereka ukir. Salah satu murid MI Matlaul Anwar Baros pernah menyabet medali emas olimpiade taekwondo tingkat kabupaten.


Serah terima biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews)

Mendengar tentang sekolah ini, pada Selasa (3/12) lalu, tim Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Lembaga Kesejahteraan Sosial Alamanda Tanggamus berkunjung ke lokasi sekolah. Di sana, Global Zakat-ACT sekaligus menyerahterimakan biaya hidup untuk guru melalui program Sahabat Guru Indonesia.



Arief Rakhman dari Tim Program ACT Lampung mengatakan, guru-guru di sekolah ini merupakan guru honorer. Mereka tak memiliki gaji tetap. “Keikhlasan jadi kunci utama mereka untuk mengajar,” ungkapnya.

Di hari itu, tiga orang guru mendapatkan biaya hidup dari Global Zakat. Mereka antara lain Nurhamid, Mamad dan Her Suprianto yang masing-masing telah mengabdikan dirinya sebagai guru honorer lebih dari 10 tahun. “Semoga dengan adanya biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia dapat menjadi penyemangat guru-guru mengajar di tengah keterbatasan,” harap Arief. []



Bagikan