Keikhlasan H. Masduki Merawat Sumur Wakaf

Keikhlasan H. Masduki Merawat Sumur Wakaf

ACTNews, LEBAK - Berawal dari adanya sebagian lahan milik H. Masduki yang tidak difungsikan, ide untuk menjadikan lahan tersebut sebagai lokasi Sumur Wakaf muncul. Ketika Global Wakaf hendak membangun Sumur Wakaf untuk warga Kampung Ciomas pada 2017, H. Masduki berinisiatif menawarkan lahan miliknya untuk dimanfaatkan.

Area tersebut bersebelahan dengan pesantren milik H. Masduki, yang kini hanya tinggal bangunan. Sudah lama pesantren itu ditutup karena para santri merantau. “Lalu saya jadikan bekas pesantren itu (ruangan) majelis serbaguna. Kemudian ada lurah yang bilang mau ada pembangunan Sumur Wakaf, sambil tanya-tanya tanah kosong. Ya sudah, saya bilang di sini saja biar dimanfaatkan orang banyak,” ujar H. Masduki di kediamannya di Kampung Ciomas, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak.

 

Lokasi lahan tersebut juga amat dekat dengan Masjid Hidayah Al-Mukaromi di mana warga muslim di kampung tersebut aktif beribadah dan menggelar kegiatan sosial. Menurut H. Masduki, keberadaan Sumur Wakaf yang akan dimanfaatkan banyak warga nantinya juga akan membawa banyak keberkahan. Oleh karena itu, ia tanpa ragu menjadikan sebagian lahan miliknya digunakan sebagai lokasi Sumur Wakaf.

Sejak Sumur Wakaf dibangun pada Februari 2017, keberkahan itu pun senantiasa melingkupi keluarga H. Masduki. Hal ini mengingat tidak putusnya manfaat Sumur Wakaf yang dirasakan oleh warga. Selain menopang kebutuhan air bersih di masjid, Sumur Wakaf juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga yang menggelar kegiatan sosial di area pesantren milik H. Masduki yang kini beralih fungsi menjadi gedung majelis.

“Misalnya, setiap Rabu, majelisnya dipakai ibu-ibu untuk pengajian. Juga kalau ada akad pernikahan kan majelisnya di sini juga. Kalau ada tamu-tamu dari luar, salatnya juga di sini,” ujar H. Masduki. Selain itu, kegiatan untuk PAUD dan kepemudaan juga sering diadakan di majelis tersebut.

 

Sebelum ada sumur ini, untuk berwudu ataupun buang air, orang-orang yang berkegiatan di majelis itu harus menuju ke sungai yang jaraknya sekitar 75 meter. Kini sumur tersebut persis di samping ruangan majelis, sehingga bila masyarakat yang sedang berkegiatan membutuhkan air, mereka tidak perlu repot lagi pergi ke sungai.

Karena merasa senang dapat bermanfaat bagi orang lain, H. Masduki dengan sukarela merawat Sumur Wakaf itu. Kebutuhan-kebutuhan untuk perawatan sumur tersebut, ia penuhi dari tenaga dan materi pribadinya. Misalnya saja untuk pembiayaan listrik Sumur Wakaf.

“Untuk perawatannya itu dikerjakan istri saya. Setiap pagi dan sore, istri saya yang mengontrol. Kalau ada yang kotor ya dibersihkan. Nanti kalau mesin atau airnya kenapa-kenapa kan bisa ketahuan juga. Kadang bisa juga yang kontrol anak-anak saya, atau anak-anak yang sedang mengaji jika sedang lowong, bisa membantu,” ungkap H. Masduki.

 

Terkadang warga juga membantunya melalui sumbangan sukarela, namun ia juga merasa tidak keberatan untuk merawat sumur tersebut sendirian. Bagi H. Masduki, selama ia masih sanggup, ia akan melakukannya bersama keluarganya. Lagipula menurutnya, yang ia cari hanyalah keridaan Allah dan ia ikhlas untuk membagikan kemanfaatan tersebut untuk orang banyak.

“Kalau saya yang penting bisa bermanfaat buat orang lain, hitung-hitung sedekah saya juga. Lagipula ini kan dari orang lain (wakif), kemudian disalurkan ke saya, nah saya menyalurkan lagi ke orang-orang. Intinya kita saling berbagi sajalah,” kata H. Masduki. []

Tag

Belum ada tag sama sekali