Kekeringan Masih Melanda Sebagian Wilayah

Jika di Sukabumi dan Kalimantan Tengah sedang dilanda banjir akibat intensitas hujan yang tinggi, lain halnya dengan di Sragen. Kota yang berbatasan dengan Jawa Timur ini masih mengalami kekeringan karena minimnya guyuran hujan.

Kekeringan Masih Melanda Sebagian Wilayah' photo
Seorang warga Kecamatan Jenar, Sragen akan mengambil air yang didistribusikan ACT Solo untuk wilayah terdampak kekeringan ini. Ahad (20/9) lalu, sebanyak 16 ribu liter air terdistribusi bagi ratusan keluarga. (ACTNews)

ACTNews, SRAGEN – Menjelang akhir September, kabar tentang bencana banjir dan tanah longsor menghiasi jagat media nasional. Di Cicurug, Sukabumi serta wilayah Kalimantan Tengah dikabarkan menjadi beberapa titik yang dilanda bencana banjir. Hujan dengan intensitas yang cukup tinggi telah terjadi di sana. Namun, hal ini tak serta-merta juga terjadi menyeluruh di daerah lain. Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih menemukan daerah yang mengalami kekeringan dengan intensitas hujan yang sangat rendah, hingga warganya mengalami krisis air.

Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen menjadi salah satu titik yang hingga kini masih mengalami kekeringan. Bahkan, kondisi ini membuat bencana bagi warga, yaitu krisis air dan mengeringnya lahan pertanian. Salah satu titik yang mengalami dampak kekeringan parah ada di Dukuh Plosombo, Desa Banyuurip. Ada ratusan keluarga yang harus menggantungkan kebutuhan air mereka dari bantuan kemanusiaan.

Muzaid Bahar dari tim Masyarakat Relawan Indonesia Sragen, Ahad (20/9), mengatakan, kekeringan yang terjadi di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jawa Timur itu telah terjadi sejak berbulan-bulan lalu. Memang, daerah tersebut nyaris setiap tahun menjadi langganan kekeringan. Pasalnya, sumber air yang minim serta tak semua permukiman warga mendapatkan akses air PAM.

“Hampir setiap tahun kekeringan parah terjadi di wilayah ini (Kecamatan Jenar). Tahun 2019 lalu merupakan salah satu kekeringan yang paling parah,” jelas Bahar.

Untuk mengatasi dampak kekeringan ini, biasanya warga harus putar otak untuk tetap mendapatkan pasokan air. Namun, tak setiap saat ada bantuan kemanusiaan dalam bentuk distribusi air. Untuk itu, warga terpaksa merogoh kocek yang cukup dalam. Susi, salah satu warga Kecamatan Jenar, menuturkan, jika kemarau datang para petani sulit bercocok tanam karena tak ada air untuk pertanian. Untuk konsumsi, jika tak ada bantuan air, warga harus membeli air bersih. “Per satu liter itu harga air bisa sampai 55 ribu (Rupiah),” kata Susi.

Merespons bencana kekeringan ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Solo Raya bersama Masyarakat Relawan Indonesia pada Ahad (20/9) lalu mengirimkan air bersih menggunakan Humanity Water Truck. Sebanyak 16 ribu liter air dinikmati oleh ratusan keluarga.

Kekeringan ekstrim

Tahun 2019 lalu, ACTNews pernah melakukan jelajah kekeringan ke wilayah Kecamatan Jenar, Sragen. Tepatnya pada Agustus 2019, kekeringan membawa dampak yang cukup buruk bagi warga. Semua area pertanian mengalami kekeringan, begitu juga aliran sungai yang hanya dipenuhi dengan daun-daun kering. Lubang-lubang di badan sungai yang warga gali untuk mencari cadangan air pun telah mengering dan tak dapat lagi digunakan. Warga yang sebagian besar dalam kondisi ekonomi prasejahtera pun hanya bisa mengharapkan bantuan kemanusiaan dalam bentuk air.

Secara rutin, ACT Solo Raya mendistribusikan air ke wilayah yang cukup parah terdampak kekeringan ini. Namun, ikhtiar itu belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan air warga karena jiwa yang terdampak kekeringan cukup banyak. Untuk itu, peran serta masyarakat luas sangat dibutuhkan guna menyelesaikan permasalahan ini.

“Masyarakat yang ingin membantu saudara kita yang terdampak kekeringan bisa mengirimkan kedermawanannya malalui laman Indonesia Dermawan atau datang langsung ke kantor-kantor cabang ACT yang tersebar di berbagai wilayah,” ajak Ardiyan Sapto dari Tim Program ACT Solo, Rabu (23/9).[]

Bagikan

Terpopuler