Kekeringan Meluas, Ekonomi Warga Kian Terhimpit

Di Gunungkidul, sektor pertanian yang menjadi andalan masyarakat kini mengering, tak dapat menghasilkan pendapatan. Sedangkan pengeluaran rumah tangga sehari-hari meningkat karena harus membeli air.

ACTNews, GUNUNGKIDUL Ratusan kepala keluarga di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta saat ini tengah mengalami dampak kekeringan. Pasokan air dari perusahaan daerah air minum tak dapat diandalkan. Air itu hanya mengalir sesaat saja, bahkan hanya sekali dalam sebulan. Sumur warga mengering, juga sungai yang menjadi pemasok air untuk pertanian.

Karmujiyanto, salah satu warga Desa Pengos, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul menyebut, kekeringan yang melanda desanya sangat berdampak pada kehidupan masyarakat, khususnya ekonomi. Tak adanya sumber air memaksa warga harus membeli air. Harganya cukup tinggi, hingga Rp 135 ribu per tangki air ukuran 4 ribu liter.

“Air yang dibeli itu paling habis paling lama dua pekan. Kalau keluarga dan hewan ternaknya banyak ya kurang dari itu waktu habisnya,” tuturnya, Senin (12/8).

Selain manusia, hewan ternak yang menjadi tabungan warga juga membutuhkan air. Sementara itu, lahan persawahan yang sebelumnya ditanami padi kini tak terurus karena terhentinya pasokan air.

Karmujiyanto menambahkan, sektor pertanian yang menjadi andalan masyarakat kini mengering, tak dapat menghasilkan pendapatan. Sedangkan pengeluaran rumah tangga sehari-hari meningkat karena harus membeli air. “Enggak sedikit warga yang harus menjual hewan ternak buat beli air,” ungkapnya.


Selain Gunungkidul, daerah di Indonesia lainnya juga mengalami kekeringan. Berdasarkan pantauan hari tanpa hujan (HTH) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 10 Agustus lalu, hampir seluruh wilayah Pulau Jawa telah mengalami kekeringan ekstrem. Terpantau hujan sudah tak lagi turun lebih dari 60 hari. Selain Jawa, gugusan pulau di Nusa Tenggara Barat dan Timur juga mengalami fenomena kekeringan serupa.

Selain minimnya sumber air, dampak kekeringan yang terjadi di Indonesia ini juga cukup luas, bahkan menyentuh berbagai sektor. Direktur Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) Wahyu Novyan mengatakan, kekeringan yang terjadi di Indonesia juga berdampak pada lini ekonomi masyarakat, kesehatan, hingga keamanan. Datangnya kemarau menambah pengeluaran tiap keluarga. Setidaknya mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli air.

“Air jadi kebutuhan utama, kalau kekeringan seperti sekarang ini mau tak mau warga harus membeli air, yang itu artinya menambah pengeluarkan keluarga. Belum lagi dampak kesehatan jangka panjang yang bahkan bisa mengancam gizi anak, jika terjadi kekeringan ekstrem. Potensi munculnya kriminalitas juga mungkin terjadi karena terdesaknya perekonomian untuk memenuhi berbagai kebutuhan di musim kering,” jelas Wahyu, Senin (19/8).

Diprediksi musim kemarau akan tiba di puncaknya pada Agustus. Akan tetapi hingga pertengahan Agustus ini masih sedikit tanda akan turunnya hujan, walau di sebagaian wilayah terpantau telah diguyur hujan, namun dengan intensitas yang sangat rendah. Hal ini, tambah Wahyu, tak menutup kemungkinan akan semakin meluasnya dampak kekeringan.[]