Kekeringan Parah, Warga Madagaskar Makan Kaktus dan Daun Liar untuk Bertahan Hidup

Madagaskar tengah mengalami kekeringan terburuk dalam 40 tahun terakhir. Lahan-lahan pertanian berubah menjadi gurun pasir. Bahkan, 80 persen populasi di Selatan Madagaskar terpaksa memakan makanan ekstrem untuk bisa bertahan hidup. Seperti memakan belalang, buah kaktus merah mentah, hingga daun-daun liar.

malnutrisi anak madagaskar
Ilustrasi. Angka kasus malnutrisi di Madagaskar terus meningkat. (United Nations/ Viviane Rakotoarivony)

ACTNews, Madagaskar – Kekeringan masih menjadi momok menakutkan di Madagaskar. Terutama di bagaian Selatan Madagaskar, di mana kekeringan terjadi paling parah ketimbang wilayah lainnya. Kekeringan menyebabkan setidaknya 1,35 juta warga di sana membutuhkan bantuan pangan dan gizi darurat.

Organisasi Pangan Dunia (WFP) menyatakan bahwa kekeringan ini tujuh kali lebih buruk ketimbang tahun 2020 lalu. Serta yang terburuk dalam jangka waktu 40 tahun terakhir. Hujan yang tak kunjung datang, ditambah dengan tingkat erosi tanah yang tinggi, penggundulan hutan, dan badai pasir drastis yang belum pernah terjadi sebelumnya, telah menutupi lahan pertanian dan padang rumput dengan pasir.

Mengubah lahan subur menjadi seperti gurun pasir membuat sektor pertanian mengalami kelumpuhan. Produksi pangan pada tahun 2021 diperkirakan akan kurang dari 40 persen dari rata-rata lima tahun terakhir. Membuat pangan menjadi sesuatu yang langka, dan masyarakat dipaksa untuk mampu mencari pangannya sendiri.

Sepanjang 2021 ini, banyak keluarga di Madagaskar yang telah kehabisan persediaan makanan mereka. Saking laparnya, mereka terpaksa memakan benih tanaman yang semestinya mereka simpan pada musim tanam tiba. Diperkirakan, hingga 80 persen populasi di Selatan Madagaskar terpaksa memakan makanan ekstrem untuk bisa bertahan hidup. Seperti memakan belalang, buah kaktus merah mentah, hingga daun-daun liar.

WFP pun menyatakan angka kasus malnutrisi di Madagaskar terus meningkat. Berdasarkan Kementerian Kesehatan Madagaskar, angka Malnutrisi Akut Global (GAM) pada anak balita, meningkat hampir dua kali lipat dalam empat bulan terakhir. Atau hampir 16,5 persen populasi balita di Madagaskar. Di mana anak-anak dengan penderita malnutrisi empat kali lebih mungkin meninggal ketimbang anak-anak yang sehat.

Dengan tingkat malnutrisi akut yang terus meningkat, WFP menyatakan tindakan mendesak diperlukan untuk mengatasi krisis pangan di Madagaskar. Bukan tidak mungkin, jika bantuan pangan tidak diberikan segera, maka akan banyak nyawa yang terenggut.

Global Qurban bersama Aksi Cepat Tanggap pun mengajak seluruh Sahabat Dermawan untuk bisa membantu menyudahi krisis pangan di Madagaskar. Melalui berkurban, daging hewan kurban yang nantinya telah para dermawan beli melalui Globalqurban.com, akan diditribusikan untuk warga di berbagai belahan dunia, yang mengalami krisis seperti di Madagaskar. Daging-daging berkualitas juga kaya akan kandungan gizi, sehingga gizi buruk yang telah lama diderita anak-anak di sana dapat teratasi. []