Kekurangan Modal, Eni Tak Sanggup Terima Pesanan Keripik Cimol

Berjualan cimol kering menjadi sumber penghasilan Eni. Hasil jualan ia gunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari bersama anaknya.

Eni (60) sedang mengemas usaha Cimol Kering miliknya. (ACTNews)

ACTNews, BANDUNG — Usaha keripik cimol buatan Eni (60) turut terdampak pandemi. Daya beli yang menurun amat berpengaruh pada pendapatan Eni. Padahal, usaha itu menjadi satu-satunya cara Eni mendapatkan nafkah.

Lebih dari 10 tahun Eni menjual keripik cimol. Usaha itu ia geluti untuk menyambung hidup bersama anaknya setelah sang suami meninggal 12 tahun lalu. Awal modal usaha Eni adalah kebaikan keluarganya. “Dulu terkumpul satu juta rupiah. Terus diputer, mulai dari membeli bahan baku, mengolah, hingga mengemas, dan memasarkan produk dilakukan sendiri,” aku Eni.

Moring memiliki segmentasi pembeli sendiri. Sebelum pandemi, Eni menjual keripik cimol buatnnya ke ke warung-warung. Sering kali, ia menerima pesanan dari para pelanggan. Usaha itu cukup laris,  seminggu, Eni bisa memperoleh untung Rp 200-250 ribu.

Namun, saat ini, Eni menghadapi tantangan besar. Ia membutuhkan modal Rp 800 ribu. “Sebenarnya, pesanan sudah muali ada. Namun, modal terbatas, membuat saya banyak menolak pesanan. Sebab itu, saya amat berharap bisa mendapat bantuan modal agar bisa mengembangkan produksi,” ungkap Eni. Akankah kedermawanan segera hadir untuk Eni?[]