Kelaparan Ancam Kehidupan Ibu dan Anak di Yaman

Kebanyakan wanita dan anak-anak di Yaman mengalami kekurangan gizi akut. Di negeri yang mengalami krisis kemanusiaan terbesar itu, WHO menyebut, masa depan anak-anak telah dirampas.

Kelaparan Ancam Kehidupan Ibu dan Anak di Yaman' photo
Relawan dokter Aksi Cepat Tanggap memeriksa pasien anak di klinik kesehatan Sana'a Maret lalu. (ACTNews)

ACTNews, ASLAM – Nada, bayi yang berusia 10 bulan asal Aslam, hanya memiliki berat 2,5 kilogram. Ia sudah dua kali dirawat di pusat kesehatan Aslam, sebuah desa di Provinsi Hajjah dengan penduduk 100.000 jiwa.

Nada adalah salah satu cerita dari maraknya pasien yang membutuhkan pertolongan di pusat kesehatan Aslam. Dikisahkan The Humanitarian News, Makiah al-Aslami, seorang perawat berusia 50 tahun, mendedikasikan hidupnya menjadi pelayan kesehatan di Aslam. Orang-orang sekitar memanggilnya “dokter”.

Selain bayi seperti Nada, ada ratusan ibu yang juga membutuhkan bantuan kesehatan di Aslam. Makiah mengatakan ribuan orang terlantar dan mencari tempat berlindung ke Aslam, wilayah yang juga termasuk daerah termiskin di Yaman. "Orang-orang yang kelaparan bertambah lebih banyak,” terang Makiah kepada The Humanitarian News.

Sejak September 2016, krisis memaksa pemerintah Yaman menghentikan pembayaran ratusan ribu pegawai negeri seperti Makiah. Kejadian itu tidak mengehentikan nurani Makiyah. Dia membuka klinik dan bepergian ke sekitar daerah untuk mencari pasien yang tidak dapat menghubunginya. "Ini tugas dan misi saya. Jika saya pulang, saya masih di klinik di hati dan pikiran saya,” katanya.


Pelayanan kesehatan untuk mengatasi malnutrisi kembali dilakukan ACT di Yaman pada pertengahan Juli lalu. (ACTNews)

Bukan pekerjaan mudah bagi Makiah dan sejumlah kolega medisnya untuk meredam malnutrisi di Yaman. Ia menuturkan, masih banyak desa-desa yang sulit dijangkau. Berdasarkan fakta, melawan kelaparan diibaratkan perang yang tidak henti-hentinya, terlebih ketika pasien meninggalkan perawatan yang mereka berikan dan tidak dapat kembali mengakses makanan.

“Ketika saya melepaskan seorang ibu dan anak, saya tahu, mereka akan kembali mengalami malnutrisi. Yang lebih menyedihkan, sebagian di antaranya meninggal dunia di desa-desa yang tidak dapat saya datangi,” ungkap Makiah.

Perjuangan para ibu mendapatkan makanan untuk anak-anak mereka juga tidak mudah. Maryam al-Agrabi, ibu Nada, mengatakan, keluarga mereka hanya bertahan dengan makan satu kali sehari. Total makanan yang dapat dikonsumsi 11 anggota keluarga terdiri dari sejumlah roti kadaluarsa, sebuah kentang, dan sekotak terigu. Keluarga mereka tidak dapat menyimpan makanan lebih dari tiga hari

The Humanitarian News melaporkan, banyak wanita berjalan tiga jam dari rumah ke klinik untuk mengambil jatah makanan mereka. Belum lagi, mereka pun harus melakukan perjalanan yang sama saat pulang sembari membawa makanan dan menggendong anak-anak mereka. Saat Tim Humanitarian News melakukan liputan pada Juli lalu, temperatur mencapai 45 derajat Celsius. Para ibu mengatakan, mereka tidak punya makanan di rumah atau di tenda mereka, dan ini adalah tempat terdekat membagikan bantuan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut anak-anak secara terus menerus meninggal dunia dan mengalami kecacatan akibat konflik. Sekitar 360.000 anak di bawah lima tahun berjuang dari malnutrisi akut. Mereka juga membutuhkan perawatan dari diare dan dugaan kolera sejak awal 2019. Rusaknya sejumlah fasilitas rumah sakit menghambat akses kesehatan masyarakat. Meninggalkan anak-anak Yaman sama saja merampas masa depan mereka.[]

Bagikan

Terpopuler