Kelaparan, Bayi di Yaman Gigit Tangan Sendiri

Kelaparan akut membuat bayi dari Mariam Hadadi sering menggigit tangannya sendiri. Imbasnya, jari sang bayi sering kali berdarah karena luka.

bayi makan tangan sendiri
Jari bayi yang terlukan karena terus digigiti . (Dok. Vice)

ACTNews, YAMAN – Bayi Mariam Hadadi, menangis lirih di salah satu klinik darurat di Utara Yaman. Kelaparan akut membuatnya sangat kurus. Barisan tulang pun terjiplak jelas di balik kulitnya. Belum lagi, terlihat bekas luka di jari-jarinya yang ternyata bekas gigitannya sendiri.

Mariam menceritakan, bayinya kerap mencoba memakan tangannya sendiri karena terlalu lapar. "Dia (bayi) menggigitnya (jari) sampai berdarah. Dia memakannya karena lapar. Aku melihat darah di gigi dan mulutnya," kata Mariam.

Mariam mengatakan, peristiwa tersebut adalah hal yang sangat menyakitkan bagi dirinya untuk dilihat. Namun, tidak banyak yang bisa Mariam usahakan untuk meredam kelaparan bayinya. Ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Secara praktis, ia hanya mampu mengandalkan bantuan dari masyarakat internasional untuk bertahan hidup.

Sayangnya, bantuan tersebut tidak datang setiap hari. Membuat hari-hari tanpa makanan sudah menjadi hal yang lumrah bagi Mariam. Jika pun hadir bantuan, Mariam menuturkan ia biasanya harus menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkannya.

Berdasarkan data yang dihimpun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada 2021 ini, satu anak meninggal setiap 10 menit di Yaman. Dari 21 warga Yaman yang tengah mengalami krisis kemanusiaan, PBB menyebut 11,3 juta di antaranya merupakan anak-anak. Sekitar 2,3 juta anak di antaranya mengalami kekurangan gizi akut, dan 400.000 anak di antaranya dinyatakan masih berada di bawah usia lima tahun.

PBB juga menyatakan bahwa pada tahun ini, lima juta orang di Yaman diperkirakan meninggal dunia karena kelaparan dan penyakit yang menyertainya. Jumlah ini pun berpotensi bertambah sebanyak 10 juta orang jika bantuan yang datang tidak kunjung tiba.

“Kelaparan bukan hanya masalah makanan, itu adalah gejala keruntuhan yang jauh lebih dalam. Orang yang kelaparan bukan hanya menunjukkan tidak adanya makanan, tetapi juga mereka terlalu miskin untuk membelinya,”  ujar Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF dari PBB.[]