Kelaparan Tengah Berlangsung di Tigray, Ethiopia

“Kematian sedang mengetuk pintu kami,” kata salah seorang penduduk Tigray yang menggambarkan buruknya kondisi kelaparan di wilayah Ethiopia tersebut. Kepala Bidang Kemanusiaan PBB, Mark Lowlock menyebut, bencana kelaparan tengah melanda Tigray.

Kelaparan Tigray Ethiopia
Tangkapan layar satelit yang menampilkan peta Tigray, Ethiopia.

ACTNews, JAKARTA – Di saat tubuh selama 72 jam tak mendapatkan nutrisi dari makanan baru, akan terjadi kematian sel-sel. Hal ini memungkinkan tubuh memecah lemak dalam jumlah yang banyak dan menyebabkan kondisi ketosis. Ketosis sendiri memiliki arti tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, padahal umumnya mekanisme tersebut menggunakan karbohidrat. Keadaan seperti ini lazim kita sebut sebagai kelaparan. Jika dibiarkan, seakan menjadi cara untuk seseorang kehilangan nyawa secara kejam.

Yang menyedihkan, hal itulah yang saat ini tengah terjadi di Tigray, sebuah wilayah di bagian utara Ethiopia, Afrika. Berdasarkan laporan BBC pada 11 Juni lalu, Kepala Bidang Kemanusiaan PBB, Mark Lowcock menyebut bencana kelaparan sedang melanda Tigray, dan diprediksi kondisinya akan terus bertambah parah.

Kelaparan tersebut, selain di Tigray, juga melanda dua wilayah tetangganya, Amhara dan Afar. Di mana, sebanyak 350 ribu orang hidup dalam kondisi krisis parah. Hal tersebut diperparah karena Tigray mengalami porak-poranda dampak konflik yang terjadi di sana. Dalam analisis mengenai situasi kawasan Tigray, Lowcock menyebut, kondisi pangan telah mencapai taraf “bencana” akibat kelaparan dan kematian di kawasan yang luas.

Dalam sajian laporannya, BBC menceritakan juga bahwa penduduk di Qafta Humera, salah satu distrik terisolasi di bagian barat Tigray tengah dalam kelaparan parah. Tak ada seorang pun yang memberikan bantuan kepada penduduk di sana. Hampir semua warga bersiap bertemu dengan ajal akibat kelaparan. “Kematian sedang mengetuk pintu kami,” kata salah seorang warga.

Di tahun 1984, Tigray jadi salah satu titik pusat bencana kelaparan akibat kekeringan dan konflik yang mengakibatkan 600 ribu sampai 1 juta orang meninggal dunia.[]