Keluarga Attieh Hidup dengan Sisa Luka Serangan

Bertahun-tahun, Attieh dan keluarganya harus hidup dengan kondisi kesehatan yang tak lagi normal setelah menjadi korban konflik 2014 silam. Anak dan istrinya terluka parah dan hingga kini belum mendapatkan penanganan medis.

Keluarga Attieh Hidup dengan Sisa Luka Serangan' photo

ACTNews, JABALIA Akhir Juli 2014 silam, tepatnya Sabtu (26/7), sebuah serangan menghantam wilayah Jabalia, Palestina. Korban berjatuhan, termasuk keluarga Attieh Shehdeh Abu Namous (50). Satu keluarga itu terdiri dari 10 jiwa. Mereka mengalami luka. Attieh sendiri mengalami luka parah yang mengganggu sarafnya. Ia sering mengalami kejang-kejang dan tiap bulannya kini 300 dolar harus dikeluarkan untuk pengobatan.

Attieh merupakan keluarga prasejahtera. Pendapatan keluarga mereka hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Per bulan, keluarganya berpenghasilan USD 140. Sedangkan untuk pengobatan akibat serangan lima tahun itu belum dapat tertangani dengan baik karena perlu ribuan dolar. Selain Attieh, anggota keluarganya yang lain juga mengalami luka parah akibat serangan.

Istri Attieh, Fatima (50), mengalami cacat di retina mata kanannya. Untuk operasi, mereka harus membayar hingga USD 10 ribu agar dapat melihat lagi. Sedangkan Ali, anak laki-laki Attieh, sekarang tak dapat mendengar. Ia tuli akibat serangan Israel 2014 silam. Mereka semua tak dapat melakukan operasi untuk kesembuhan, keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama.

Ali saat ini berumur 16 tahun. Serangan beberapa tahun lalu membuat Ali tak dapat mendengar. Ia tak pernah mendapatkan pengobatan secara menyeluruh hingga sekarang. Biaya pengobatan yang mencapai USD 3 ribu tak dapat dipenuhi. Sementara itu, untuk pengobatan rutin harus ditebus dengan harga USD 150 per bulannya.

“Dari pertama kali saya tuli, sampai sekarang belum ada pengobatan secara menyeluruh yang saya lakukan,” ungkap Ali.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response (GHR)-ACT mengatakan, kepedulian para dermawan dapat membantu korban konflik kemanusiaan seperti keluarga Attieh. Diblokade selama belasan tahun membuat penduduk Palestina, khususnya di Gaza, hidup dalam belitan keterbatasan. Jika pun mereka mengungsi, kondisinya sangat memprihatinkan. “Kepedulian kita amat berarti bagi mereka,” ungkap Said, Selasa (10/9). []

Bagikan