Keluarga Aydah: Kami Menderita di Musim Panas maupun Hujan

Hujan membuat seisi rumah terendam air, bukan hanya dari atap, tetapi dari pintu utama. Di musim panas, keluarga mereka terjebak suhu panas di rumah berdinding seng itu.

Aydah Eid Soliman Alhawy, ibu enam anak, menunjukkan rumahnya yang tidak layak huni di Deir Albalah, Gaza. (ACTNews)

ACTNews, DEIR ALBALAH – “Alhamdulillah, kabar kami sekeluarga baik,” ungkap Aydah Eid Soliman Alhawy, saat mitra Aksi Cepat Tanggap mengunjungi rumahnya pada Oktober 2020. Ungkapan syukur itu menggambarkan betapa berlapang dadanya keluarga Aydah yang tinggal di Deir Albalah, Gaza, Palestina.

Beberapa waktu sebelum kedatangan mitra ACT, hujan turun di kota Deir Albalah. Di satu sisi, keluarga Aydah bersyukur, mereka mendapat sumber air bersih. Namun di sisi lain, mereka harus bekerja sama membuat tanggul dari pasir agar air tidak masuk ke rumah.

“Kami langsung lari membuat penghalang dari pasir agar air tidak masuk ke dalam rumah,” lanjut Ayda. Namun, usaha mereka mencegah air masuk ke rumah ternyata tidak berbuah banyak. Air menetes melalui celah-celah atap, bahkan membasahi kasur mereka. Jika sudah begitu, satu keluarga berjumlah enam orang itu tidak dapat lagi tidur di kasur dengan layak karena butuh waktu seminggu agar kasur kering dan tidak menyebabkan penyakit.


Tampak luar halaman rumah keluarga Aydah Alhawi. (ACTNews)

Bukan hanya di musim hujan, di musim panas keluarga Ayda juga harus menahan suhu yang pengap di rumah asbes mereka. Ia paling prihatin dengan anak-anaknya. “Kita harus menunggu sampai Allah menghapus kesusahan kita,” kata Ayda kepada anak-anaknya. Ia berharap mereka mengerti.

Ayda adalah satu dari ribuan keluarga di Gaza yang membutuhkan bantuan tempat tinggal dan dukungan kebutuhan hidup. Ia berharap ada dermawan yang mau menolongnya, sehingga anak-anaknya bisa hidup lebih baik.

Berikhtiar membantu masyarakat Palestina, ACT tengah menginisiasi program-program tempat tinggal dan keluarga asuh antara keluarga Palestina dan dermawan Indonesia. Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response - ACT menjelaskan, program tempat tinggal untuk keluarga Gaza diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga prasejahtera, para yatim, dan para ibu orang tua tunggal.

“Rasio angka kemiskinan di Gaza lebih dari 60 persen. Sekitar 31 persennya tidak memiliki rumah, mereka hidup di tenda atau rumah-rumah bedeng. Mereka adalah keluarga miskin yang selama ini tidak dapat membayar uang sewa apa pun untuk tempat tinggal,” jelas Said.

Sementara itu, melalui program Keluarga Asuh Indonesia-Palestina, keluarga dermawan Indonesia diajak untuk membantu kebutuhan dasar keluarga-keluarga prasejahtera dengan mempersaudarakan keluarga Indonesia dan Palestina.

“Misi program ini adalah menjalin silaturahmi antara dermawan dan penerima manfaat. Semoga Sahabat Dermawan dapat mendukung langkah kami ini,” harap Said.[]