Keluarga di Yaman Kais Makanan di Tempat Sampah

Krisis ekonomi di Yaman telah menyebabkan harga pangan meroket. Masyarakat miskin terpaksa mengonsumsi makanan dari tempat sampah untuk bertahan hidup.

keluarga di yaman makan sampah
Seorang anak laki-laki meminum jus kadaluarsa di atas tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir di Sanaa, Yaman. (Reuters/Mohamed al-Sayagh)

ACTNews, YAMAN – Krisis ekonomi di Yaman tiap hari kian memburuk. Konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun di Yaman, telah menyebabkan devaluasi. Rial Yaman turun hampir 40 persen nilainya terhadap dolar AS dalam delapan bulan pertama tahun 2021.

Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga pangan yang sangat tinggi. Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan, imbas Rial Yaman yang kehilangan nilainya harga pangan di beberapa wilayah di Yaman meroket sampai 60 persen.

Warga Yaman yang mayoritasnya adalah keluarga miskin, sangat sulit untuk sekadar membeli makanan. Kondisi mengenaskan pun terjadi di beberapa wilayah di Yaman. Banyak warga terpaksa mengonsumsi makanan tidak layak yang mereka temukan di tumpukan sampah di pinggir jalan.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) ACT menjelaskan, meskipun bantuan kemanusiaan hingga saat ini masih terus didistribusikan, namun nyatanya tingkat kerawanan pangan di Yaman masih sangat tinggi.

"Data yang kami temukan, 16,2 juta orang di Yaman yang mengalami kerawanan pangan. Lebih dari 5 juta orang di Yaman juga berada di ambang kelaparan akut dan harus berjuang ekstra keras untuk sekadar membeli makanan yang cukup untuk satu hari," jelas Firdaus, Senin (1/11/2021).

Sebuah survei baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga keluarga memiliki kesenjangan dalam konsumsi harian. Mereka tidak pernah mengkonsumsi makanan seperti kacang-kacangan, sayuran, buah, produk susu atau daging.[]