Keluarga Miskin di Gaza Sulit Mengakses Pengobatan

Anak pertama dan kedua Sami Omar Khalil menderita penyakit dislokasi bawaan sejak lahir. Mereka tidak menjalani pengobatan karena sang ayah tidak memiliki penghasilan sama sekali. Selain keluarga Sami Omar, tiga anggota keluarga Anwar Ghazal Muhammad Salha juga tidak mendapatkan pelayanan kesehatan penuh.

Keluarga Miskin di Gaza Sulit Mengakses Pengobatan' photo
Keluarga Sami Omar Khalil. (ACTNews)

ACTNews, GAZA UTARA – Pasrah, kata yang mungkin tepat menggambarkan keluarga Sami Omar Khalil. Famili yang tinggal di Bait Lahia itu menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Segala ikhtiar mereka lakukan untuk tetap bertahan hidup.

Omar menanggung empat anak dan seorang istri. Mereka termasuk keluarga prasejahtera di Gaza. Ghazal dan Ghina, anak pertama dan kedua Sami Omar, menderita penyakit dislokasi bawaan sejak lahir. “Tidak ada pemasukan sama sekali, tak ada biaya untuk pengobatan anak-anak. Bahkan biaya untuk makan sehari-hari pun tidak ada,” cerita Sami Omar kepada mitra Aksi Cepat Tanggap di Gaza.

Keluarga Sami Omar adalah salah satu gambaran keluarga di Gaza yang hanya bergantung dari tunjangan kesejahteraan sosial. Tidak ada lagi yang mereka mampu upayakan di tengah krisis Gaza saat ini.

Sama seperti Sami Omar, keluarga Anwar Ghazal Muhammad Salha, salah satu keluarga terdampak kemanusiaan di Gaza. Tiga anggota keluarganya menderita penyakit, Anwar sebagai kepala keluarga menderita keterbelakangan mental, kedua anaknya, Sameh dan Huda mengalami sindrom down.


Anwar Ghazal Muhammad Salha. (ACTNews)

Berdasarkan data yang dihimpun tim Global Humanity Response ACT, keluarga Anwar membutuhkan kasur, selimut, pakaian untuk anak, dan transportasi untuk perawatan. Keluarga mereka membutuhkan seseorang untuk mendukung keluarga yang tinggal di Kamp Jabalia itu.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response ACT menjelaskan, layanan kesehatan menjadi salah satu program yang amat dibutuhkan warga Gaza. Keluarga miskin di Gaza cukup sulit mendapat akses kesehatan karena fasilitas kesehatan di Gaza nyaris kolaps, di satu sisi, keluarga prasejahtera tidak memiliki kemampuan untuk berobat dan menuju fasilitas kesehatan.

Tahun 2020 lalu, data yang diperoleh GHR menunjukkan hampir 3000 pasien warga Gaza terdampak penyakit keras, lumpuh total, dan penyakit ringan lainnya dan juga hampir 1.000 kasus baru Covid-19 per harinya yang terlaporkan di Palestina.

“Upaya menghadirkan layanan kesehatan yang memadai, kata said, amat membutuhkan dukungan yang sangat banyak dari para dermawan. Ada obat-obatan, listrik, bahan bakar ambulans yang membutuhkan biaya. Berjalannya klinik Indonesia selama ini atas dukungan dermawan, sebab itu kami berharap dukungan ini bisa terus berlanjut,” jelas Said.[]