Keluarga Sudarni Andalkan Penjualan Batu Bata yang Sepi Pembeli

Sejak pandemi, Sudarni, seorang pembuat dan penjual batu bata di Bantul, mengalami penurunan pendapatan akibat sepi pembeli. Kini ia mengharapkan peningkatan pendapatan dengan dukugan Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia yang Global Wakaf-ACT salurkan.

Batu bata produksi Sudarni di Bantul
Sudarni sedang menyusun bata yang ia produksi bersama suaminya di Bantul. (ACTNews)

ACTNews, BANTUL Jam dinding masih menunjukkan pukul 04.30. Bagi kebanyakan orang, waktu ini masih bisa dihabiskan di dalam rumah. Akan tetapi tidak bagi Sudarni dan suaminya, warga Sampangan, Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Setiap harinya, di pagi buta, Sudarni meninggalkan empat orang anaknya di rumah, Mereka berangkat ke tempat pembuatan batu bata. Ya, mereka merupakan dua orang tangguh yang mengais rezeki dari pembuatan bata.

Tanah lempung yang masih mentah Sudarni dan suami olah hingga menjadi seperti bubur. Dari bentuk ini kemudian dibentuk bata dan dikeringkan. Tiga hari lamanya, tapi itu pun jika cuaca mendukung. Jika musim hujan seperti sekarang, lama pengeringan bisa memakan waktu hingga sepekan. Proses ini belum selesai karena masih ada pembakaran baru siap untuk dijual.

“Tempat pembuatannya begini adanya. Kalau hujan air biasanya masuk, jadi batu basah terus, bikin lama prosesnya,” ungkap Sudarni pada akhir Januari lalu.

Sudarni dan suaminya memang dituntut untuk lebih keras lagi bekerja. Mereka memiliki empat anak yang masih menjadi tanggungan. Matahari dan beratnya pikulan bata seakan menjadikan mereka kuat. Namun sayang, keadaan tak selalu berpihak. Terlebih saat ini, pandemi berpengaruh besar pada penghasilan. Nyaris satu tahun permintaan batu bata berkurang drastis.

Mengatasi menurunnya permintaan batu bata yang berdampak pada ekonomi keluarga, Sudarni harus rela menyambi pekerjaan menjadi asisten rumah tangga di salah satu perumahan yang tak jauh dari rumahnya. Cara ini dilakukan agar pemasukan untuk keluarganya tetap ada di samping menunggu permintaan batu bata kembali normal.

Global Wakaf-ACT pada akhir Januari lalu mendapat kesempatan bertemu dengan Sudarni dan keluarganya yang merupakan pengusaha pembuatan batu bata. Di sana, Global Wakaf menyarahkan dana wakaf yang dihimpun untuk Sudarni. Uang tersebut merupakan bagian dari program Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia (WMUMI) bagi pelaku usaha kecil yang terdampak pandemi.

“Dengan modal ini, saya mau meluaskan penjualan,” ungkap Sudarni.[]