Keluarga Tarini Tak Lagi Khawatirkan Krisis Air Bersih

Sebelumnya, Tarini dan Kato harus bolak-balik mengambil air dari sungai menggunakan ember, atau meminta air kepada tetangga mereka ketika kekeringan tiba. Global Wakaf-ACT kemudian membantu Tarini dan keluarga dengan menghadirkan Sumur Wakaf Keluarga di halaman rumah mereka pada pertengahan 2019 lalu.

Keluarga Tarini Tak Lagi Khawatirkan Krisis Air Bersih' photo
Tarini ketika Tim Global Wakaf-ACT berkunjung ke rumahnya pada Jumat (7/2) lalu.

ACTNewsCIREBON – Tarini mengingat kembali ketika kemarau tiba di tempat ia tinggal di Desa Kedungbunder, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon. Ia mesti bolak-balik sungai yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat ia tinggal. Bersama Kato, suaminya, Tarini yang berusia sekitar 60 tahun ini memikul 1 hingga 2 ember air selama tiga kali perjalanan setiap harinya.

“Waktu itu, kekeringan sampai 5 bulan. Kadang kita dapat (air) dari tetangga. Tapi kalau tetangga juga tidak punya air, kadang-kadang kita ambil dari sungai. Dan itu dipikul berdua dengan bapak (Kato) sambil berjalan kaki,” cerita Tarini pada Jumat (7/2) lalu.

Saat kekeringan, mobil tangki air juga kerap lewat di depan rumah mereka dan menawarkan air seharga Rp300 ribu untuk setengah tangki. Air segitu bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga Tarini yang kini tinggal berempat bersama suami, anak, dan cucunya selama setengah bulan. Namun, membeli air bukanlah pilihan utama mereka, mengingat pendapatan yang minim.

Sehari-harinya, Kato bekerja sebagai buruh tani, sementara Tarini mencari daun jati untuk dijual. Mereka berdua juga memelihara 20 kambing milik tetangga dengan upah beberapa anakan kambing jika kambing tersebut beranak. Dengan pekerjaan yang demikian banyak, penghasilan mereka tetap tidak menentu sehari-harinya dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.


Tarini sedang memberikan makan dan minum kepada ternak-ternaknya. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Mengumpulkan daun jati itu tergantung dapatnya berapa. Karena kita perlu ongkos juga untuk mengumpulkannya sebab tempat mengumpulkan daun jati itu banyak sekali, bisa habis Rp60 ribu untuk mengumpulkannya saja. Kadang-kadang setelah kita jual, dapat uang sekitar Rp100 ribu. Untung bersihnya bisa Rp30 ribu sampai Rp40 ribu,” kata Tarini.

Kondisi krisis air bersih ini Kato dan Tarini alami hingga Agustus 2019. Kala itu, Sumur Wakaf dibangun untuk keluarga mereka, buah kedermawanan wakif melalui Global Wakaf – ACT. menyampaikan kepedulian para dermawan untuk kesulitan yang dihadapi oleh Tarini dan keluarga. 


“Alhamdulillah, senang dengan adanya Sumur Wakaf di sini.
 Diberikan sumur, diberikan pompa, diberikan juga bak penampungan. Jadi tidak perlu belu air bersih dari tangka lagi, apa-apa juga dulu di sungai, seperti wudu, misalnya. Tapi setelah ada ada Sumur Wakaf, bersyukur bisa ambil wudu untuk sembahyang di sini,” ucap Tarini.

Tarini melanjutkan kerjanya hari itu. Ia mengambil seember rumput dan memberikannya kepada kambing-kambingnya. Setelah kosong, ember tersebut diisi dengan air yang ditimba dari Sumur Wakaf. Tarini dan keluarganya tidak perlu memikirkan soal kesulitan air lagi sekarang. []


Bagikan