Keluarga yang Berpisah di Papua

Pascakonflik sosial yang pecah di Wamena banyak keluarga yang berpisah. Mereka terpisah dengan keluarganya karena tak semua pengungsi dapat langsung terangkut pesawat tujuan Sentani di Jayapura maupun ke kampung halaman.

Keluarga yang Berpisah di Papua' photo
Seorang penungsi sedang menunggu kedatangan pesawat Hercules di Bandara Silas Papare, Sentani, Jumat (4/3). Pesawat itu membawa ratusan pengungsi dari Wamena menuju Jayapura. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAYAPURA – Sari Aprilia hanya bisa menangis ketika ditanyakan perasaannya hendak pulang ke tanah kelahirannya di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Ia terharu bahagia karena akan kembali ke keluarganya pascakonflik sosial yang terjadi di Wamena, tempatnya selama ini mencari nafkah. Akan tetapi, terselip kesedihan dalam keharuan yang ia rasakan. Pasalnya, tak semua anggota keluarga Sari dapat pulang bersama ke Pesisir Selatan.

Suami Sari hingga Kamis (3/10) masih tertinggal di Wamena karena harus mengantre giliran terbang menggunakan Hercules milik TNI ke Sentani, Jayapura. Sedangkan di hari itu, ia beserta kedua anaknya akan kembali ke Sumbar, terbang menggunakan Pesawat Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang membawa pengungsi asal Pesisir Selatan, termasuk Sari dan anak-anaknya.

“Suami saya masih di Wamena, belum dapat giliran terbang pakai Hercules karena masih diprioritaskan untuk perempuan, anak-anak, ibu hamil dan usia renta. Tapi kata suami saya tak apa kembali ke Pesisir Selatan lebih dulu, nanti dia menyusul,” ungkap Sari sambil mengusap air mata kesedihan akibat perpisahan, Kamis (3/10).


Sari Aprilia dan anaknya meninggalkan pengungsian di Masjid Al-Aqso, Sentani, Kamis (3/10). Mereka merupakan pengungsi konflik sosial Wamena dan hendak pulang ke Pesisir Selatan menggunakan pesawat yang disewa Aksi Cepat Tanggap.

Hal yang sama dirasakan Ana dan Rivaldi, balita asal Wamena ini harus mengungsi ke Jayapura bersama ibu dan keluarga lainnya, tanpa sang ayah. ACT bertemu dengan Ana dan Rivaldi di Bandara Militer Silas Papare ketika mereka baru saja mendarat menggunakan pesawat Hercules milik TNI yang membawa mereka dari Wamena, Jumat (4/10). Ana dan Rivaldi datang bersama ratusan penumpang lain yang tiba di Jayapura untuk mengungsi dari konflik sosial di Wamena, Jayawijaya.

Naomi, bibi Ana dan Rivaldi, mengatakan saat ini suaminya masih berada di Wamena. Sang ayah belum mendapatkan jadwal penerbangan karena sedang diprioritaskan bagi perempuan, anak-anak, dan usia renta. Namun begitu, belum jelas kapan bagian keluarga mereka mendapatkan jadwal ikut terbang dengan hercules.

“Saya asal Sorong dan tinggal di Wamena bersama suami, tapi sekarang kami mengungsi dulu keluar Wamena, kami masih trauma,” ungkap Naomi.