Kemarau ataupun Musim Hujan, Warga Desa Beber Tetap Kesulitan Air

Hujan menyebabkan tanah longsor menimpa sungai yang dijadikan sumber air utama warga di Desa Beber, Kabupaten Cirebon. Akibatnya, warga kini kesulitan air. Padahal, warga Desa Beber baru satu bulan ini lepas dari kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan di desa mereka.

Kemarau ataupun Musim Hujan, Warga Desa Beber Tetap Kesulitan Air' photo
Yayan, salah satu warga, bersama anak-anaknya sedang mengambil air di sungai yang masih tertimbun longsor. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, CIREBON – Hujan deras beberapa hari lalu membuat longsor di Dusun Pagedangan, Desa Beber, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon. Namun, longsor tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan rumah karena berada di tebing-tebing sekitar hutan dan sawah yang jauh dari permukiman warga. Permasalahannya, tanah longsor tepat menimpa sungai, penampungan air, dan mesin air warga.

Yayan, seorang warga yang berada di dusun tersebut, mengatakan bahwa mesin air yang tertimbun longsor adalah sumber air utama mereka. Mesin air itu akan mengalirkan air-air sungai yang terletak jauh di bagian bawah dusun ke perumahan-perumahan warga.

“Dulu kita ambil air memikul dengan jeriken, sekarang pemerintah desa sudah mengalirkan airnya dengan pipa. Iurannya Rp25 ribu per bulan untuk bayar mesinnya. Biasanya satu hari bisa dapat satu drum air untuk satu keluarga. Tapi sudah tiga hari ke belakang mesin dan penampungan airnya mati karena tertimbun longsor,” cerita Yayan pada Ahad (9/2) lalu.

Walhasil mereka harus turun ke sungai yang medannya cukup sulit, apalagi setelah longsor. Jaraknya sendiri kurang lebih 500 meter. Atau pilihan lainnya, warga bisa mengambil air di penampungan air masjid yang letaknya sekitar satu kilometer.

Padahal baru saja mereka melewati musim kemarau awal tahun ini. Di musim kemarau, Yayan bercerita keadaannya lebih sulit dari sekarang. Sungai mengering dan airnya sedikit, sehingga mesin pun tidak bisa mengalirkan air ke pemukiman sama sekali.


Aktivitas Yayasan Umi Sholihah mengajar di sore hari. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kalau kekeringan biasanya mengandalkan bantuan air dari desa dengan mobil tangki keliling. Itu pun tidak semua, kira-kira hanya untuk 50 rumah saja satu hari. Sempat ada Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga yang membantu kami  saat kekeringan tahun 2019 lalu,” ujar Yayan.

Karena kekeringan itu juga, Yayasan Umi Sholilah, sebuah lembaga pendidikan anak-anak yang didirikan oleh Yayan dan istrinya sejak 2012 lalu, mengalami kendala dalam aktivitas belajar mengajar. Terutama karena mereka butuh air untuk salat.


“Anak-anak yang belajar siang biasanya kan sampai jam 6 sore. Saat kekeringan terpotong waktunya sampai sebelum asar karena tidak ada air kalau mau salat berjamaah. Jadi pulang ke rumah masing-masing salat di rumah. Nanti (jam) setengah 5 kembali lagi ke sini,” jelas Yayan yang kini mendidik sekitar 200 anak.

Untuk membantu warga sekitar beserta anak-anak Yayasan Umi Sholihah, Global Wakaf – ACT  akan mendirikan Sumur Wakaf di Dusun Pagedangan.

“Mengingat di sini akses air cukup sulit, kemudian kekeringan juga sering terjadi, jadi kita memilih lokasi ini untuk pembangunan Sumur Wakaf ke depannya. Harapannya Sumur Wakaf yang dibangun di sini dapat menjadi solusi jangka panjang, bahkan ketika kekeringan terjadi,” kata Ogie  Nugraha Adhiwijaya dari Tim Program Global Wakaf - ACT Cirebon. []


Bagikan