Kemarau Panjang Melanjutkan Kisah Kekeringan di Uganda

Kemarau Panjang Melanjutkan Kisah Kekeringan di Uganda

ACTNews, MBALE - Berbicara tentang Republik Uganda, siapa pun akan merujuk pada salah satu negara di kawasan timur Benua Afrika. Republik Uganda adalah satu dari beberapa negara beriklim tropis yang musim panasnya berlangsung lebih lama dibandingkan musim penghujan. Negara ini juga dikenal dengan kondisi tanahnya yang gersang dan tandus.

Suhu di Uganda menunjukkan rata-rata pada angka 33-34 derajat Celsius. Suhu udara yang meninggi dan kemarau yang berkepanjangan pun melanjutkan kisah kekeringan di Uganda yang telah terjadi beberapa tahun terakhir. Hampir seluruh masyarakat Uganda mengalami krisis air. Melansir Water.org, laman lembaga yang merangkum data tentang kualitas air sedunia, tercatat 61% penduduk Uganda tidak dapat mengakses air bersih yang layak untuk dikonsumsi.

Jumlah tersebut termasuk masyarakat yang bertempat tinggal di dua distrik: Distrik Mbale dan Distrik Pallisa. Dua distrik ini terletak di sisi timur Uganda dan termasuk daerah dengan tingkat kekeringan yang sangat tinggi.  

Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Uganda menerangkan, sudah beberapa pekan ini masyarakat Distrik Mbale dan Distrik Pallisa terpaksa berjalan jauh setiap hari untuk memperoleh air. Sebab, satu-satunya sungai terdekat yang menjadi sumber air berjarak tiga kilometer dari kawasan tempat tinggal mereka. Itu pun mata airnya keruh dan jumlahnya sedikit karena aliran sungai yang tidak menentu.

"Saya pun sampai melibatkan anak-anak untuk bergantian membantu di rumah dan berjalan berkilo-kilo meter untuk mengambil air," cerita Ahmad, salah satu warga di Desa Namanyoni, Distrik Mbale.

Letak Republik Uganda sebenarnya berbatasan langsung dengan Danau Victoria, salah satu danau besar di Afrika. Danau yang seharusnya bisa menjadi sumber air bagi rakyat Uganda. Namun, karena terkendala jarak dan akses membuat rakyat Uganda tidak bisa menjangkau air dari Danau Victoria.

Kesulitan yang dialami rakyat Uganda tidak sampai di situ. Krisis air di sana juga menyebabkan terjangkitnya berbagai macam penyakit. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan porsi air bersih membuat penyakit seperti diare, gizi buruk, dan penyakit kulit dapat menyerang masyarakat di sana dengan sangat mudah.

Seperti yang menimpa anak-anak Husein, salah satu keluarga yang bertempat tinggal di Desa Kadenge, Distrik Pallisa. "Saya punya delapan anak yang semuanya kelaparan, minggu lalu 3 anak saya sakit diare karena mengkonsumsi air yang tidak bersih, mereka juga tidak sekolah karena hasu mengambil air setiap hari," ujar Husein kepada ACT.

Populasi di dua distrik ini diperkirakan sekitar 118.000 jiwa dengan penghasilan kurang dari $1 per kapita. Tidak adanya lapangan kerja mau tidak mau membuat para orang tua menyertakan anak-anak mereka dalam memenuhi kebutuhan domestik.

Krisis air menghambat Muslim Uganda jalankan ibadah

Rupanya kemarau panjang itu menghambat aliran air di masjid-masjid yang terletak di Distrik Mbale dan Distrik Pallisa. Sebanyak lima masjid mengalami kekeringan air, sehingga Muslim di sana tidak bisa berwudu apabila hendak melaksanakan salat. Ironinya, masyarakat di sana jadi lebih fokus mencari air dibandingkan beribadah di masjid.

"Jangankan untuk wudu, untuk minum sehari-hari saja sebuah kemewahan bagi kami," kata Husein.

Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) - ACT menyampaikan, penyediaan air bersih di lima masjid di dua distrik tersebut tengah diupayakan. “Insya Allah, ACT akan menyediakan air bersih di lima masjid yang tersebar di Distrik Mbale dan Distrik Pallisa. Tujuannya tentu agar Muslim di sana lebih mudah mengakses air bersih, baik untuk wudu maupun konsumsi sehari-hari,” terang Faradiba.

Masih dirundung krisis pengungsi

Masalah yang dihadapi Uganda tidak hanya berpusat pada krisis air, namun juga krisis kepengungsian. Negara yang terapit daratan di segala sisinya ini menjadi suaka utama yang dicari oleh sebagian besar pengungsi dari Kongo dan Sudan Selatan.

Badan Dunia untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) melaporkan, total pengungsi di Uganda hingga Juli 2018 mencapai 1,3 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka adalah korban konflik sipil di Kongo dan Sudan Selatan.

Mitra ACT di Uganda mengabarkan, ribuan pengungsi dari dua negara tersebut terus berusaha masuk ke Uganda demi mendapatkan suaka.

“Rabu (18/7), ada 3.000 pengungsi baru dari Sudan Selatan dan Kongo yang masuk ke Karamoja, Uganda Utara. Kondisi mereka memprihatinkan dan butuh perhatian lebih dari sisi medis dan pangan,” ungkap mitra ACT.

Pekan pertama Juli lalu, ratusan paket pangan didistribusikan kepada 600 keluarga pengungsi di Uganda Utara. Melihat tingginya gelombang pengungsi yang terus masuk ke Uganda, ACT dan Global Qurban berencana menyampaikan amanah kurban masyarakat hingga ke Uganda pada Iduladha 2018. []

Tag

Belum ada tag sama sekali