Kemarau, Warga Cibarusah Andalkan Genangan Air

Akibat kemarau panjang, warga Desa Ridogalih di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat sekarang mengandalkan sisa air sungai yang menggenang sebagai sumber air sehari-hari.

Kemarau, Warga Cibarusah Andalkan Genangan Air' photo

ACTNews, BEKASI Hawa panas dan gersang sudah terasa sejak memasuki wilayah Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/7). Kecamatan yang dapat ditempuh lebih kurang 2 hingga 3 jam perjalanan dari Jakarta ini sudah tak diguyur hujan sejak empat bulan lalu.

Berdasarkan pemantauan Aksi Cepat Tanggap (ACT), kekeringan telah merata di seluruh desa di Kecamatan Cibarusah. Sungai Cipamingkis dan Cihoe, juga anak-anak sungainya yang membentang di Cibarusah tak lagi mengalirkan air. Walau begitu, warga tetap mengandalkan sisa air sungai yang menggenang sebagai sumber air sehari-hari.

Kondisi ini terlihat di Desa Ridogalih yang berjarak tujuh kilometer dari kantor Kecamatan Cibarusah. Warga di sana mengandalkan air genangan di anak Sungai Cipamingkis yang melintang di desanya. Anggota Karang Taruna Ridogalih, Erik Setiawan, mengatakan saat kekeringan mulai melanda pada April lalu, masyarakat bergotong royong menggali anak sungai untuk mendapatkan persediaan air.

“Saat kekeringan, lubang-lubang genangan ini tiap tahunnya digunakan warga sebagai sumber air. Tapi warga perlu menggali ulang karena lubang tertutup lumpur yang dibawa air saat musim penghujan,” jelas Erik saat menunjukan lubang-lubang tersebut, Rabu (24/7).


Tiap harinya, puluhan warga yang tinggal di Desa Ridogalih mengambil air dari lubang yang berisi genangan air ini. Lokasi lubang ada di persawahan yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman warga terdekat. Erik menyebut, semakin sore, semakin banyak warga yang mengambil air di satu-satunya sumber air itu.

Selain dari lubang berisi genangan air yang tak jernih itu, warga Desa Ridogalih bisa mendapatkan air dengan membeli. Mereka terpaksa merogoh kocek dari Rp 20 ribu - Rp 50 ribu per harinya. Kondisi ini diakui Titin, salah satu warga.

Titin yang memiliki anak balita ini setiap harinya harus membeli air hingga Rp 35 ribu, bahkan lebih. Air yang dibeli itu digunakan untuk konsumsi, mencuci piring, serta mandi anaknya. “Kalau cuci pakaian, itu di kali yang masih ada genangan. Kalau anak mandi di rumah, pakai air yang dibeli, enggak tega kalau anak saya harus mandi di kali juga,” ungkap Titin yang memiliki anak berumur dua tahun.

Kekeringan menjadi langganan tiap tahun di Desa Ridogalih. Walau begitu, warga bukan tanpa usaha untuk mengatasi permasalahan ini. Saat ACT menyambangi Desa Ridogalih untuk mendistribusikan 8 ribu liter air bersih menggunakan Humanity Water Tank pada Rabu (24/7), warga tengah melakukan pengeboran sumur. Pengeboran saat itu sudah mencapai kedalaman 14 meter, namun belum mendapatkan hasil.