Kembalikan Produktivitas Petani Sigi, ACT dan PWJ Salurkan Benih Hortikultura

Usai Program Sumur Pertanian di sejumlah desa di Sigi, ACT Sulawesi Tengah dan Peace Winds Japan mendistribusikan ratusan benih untuk mengembalikan produktivitas petani di Kabupaten Sigi.

Kembalikan Produktivitas Petani Sigi, ACT dan PWJ Salurkan Benih Hortikultura' photo
Kepala Cabang ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah saat menyerahkan menyerahkan benih tanaman hortikultura kepada petani di Desa Maranata, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. (ACT Sulteng)

ACTNews, SIGI – Kepala Cabang ACT Sulawesi Tengah, Nurmarjani Loulembah secara simbolis menyerahkan benih tanaman hortikultura kepada petani di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sebanyak 13 jenis benih dari Peace Winds Japan (PWJ) ini diharapkan mendorong peningkatan ekonomi para petani di masa pemulihan pascabencana.

Bantuan benih diserahkan secara langsung kepada para petani di tiga desa. Desa Maranata, Kecamatan Sigi Biromaru sebanyak 140 petani dengan luas lahan 150 hektare, Desa Sidondo 1, Kecamatan Sigi Biromaru sebanyak 44 petani dengan luas lahan 20 hektare dan Desa Sibowi, kecamatan Tanambulava sebanyak 22 petani dengan luas lahan 30 hektare.

"Untuk jenis-jenis benih yang kami salurkan, ada jagung, kacang tanah, cabe, terong, gambas, semangka, paria, kacang panjang, labu, tomat, bawang dan pepaya. Bantuan benih tanaman hortikultura ini merupakan program pemulihan Aksi Cepat Tanggap bersama PWJ, untuk meningkatkan produktivitas petani. Tentunya pada waktunya nanti, akan meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya Nurmarjani usai melakukan penyerahan benih di desa Maranata, Senin (27/7).

Nurmarjani mengungkapkan, penyaluran bantuan benih hortikultura merupakan lanjutan dari Program Sumur Pertanian di sejumlah desa di Sigi. Bukan hanya terkendala air, para petani di Sigi juga tidak memiliki modal untuk mengolah lahan hingga tanam perdana.

"Kita semua sudah tahu bahwa rusaknya Jaringan Irigasi Gumbasa akibat bencana 2018 lalu, membuat petani sangat menderita, mereka seketika tak memiliki pekerjaan. Sehingga, kami juga memberikan bantuan untuk pengolahan lahan beberapa waktu lalu. Nah sekarang yang petani butuhkan ialah bibit tanaman, makanya kami upayakan bersama PWJ," terangnya.

Nani berharap, dengan bantuan tersebut, para petani bisa mencapai tujuan akhir yaitu panen yang berlimpah dan panen yang barokah. Sehingga berkahnya dapat mengalir ke seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan yang menikmati hasil pertanian.

"Semoga ikhtiar kami, untuk menggenjot sektor pangan tetap produktif dan berkembang tanpa hambatan. Terutama di masa pandemi ini, dampaknya begitu signifikan terhadap sektor ekonomi masyarakat prasejahtera," imbuhnya.

Kebahagiaan juga terpancar dari wajah para petani yang mendapat bantuan. Arifin misalnya. anggota Kelompok Tani Sejahtera 1, Desa Maranata ini mengaku sangat bersyukur. Sabab, Ini adalah momen tanam pertamanya setelah terjadinya bencana 2018 silam.

"Sejak gempa lalu, baru kali ini curah hujannya cukup tinggi. Memang setelah gempa, baru kali ini saya bisa bertanam," ungkap Arifin.

Ia menceritakan, kekeringan akibat rusaknya Irigasi Gumbasa membuat sebagian petani banting setir menjadi buruh bangunan. Bahkan ada sebagian petani yang memilih hijrah ke daerah lain, karena dorongan ekonomi.

"Kalau saya, sekitar setahun lebih menganggur. Beruntung satu tahun terakhir ada beberapa petak lahan di desa sebelah yang dikerja. Hanya saja, kami memang saat ini masih membutuhkan sumur dangkal agar petani yang lain bisa menggarap lahannya," tambahnya.[]


Bagikan