Kemeriahan Kurban Eratkan Kebersamaan Muslim Minoritas Desa Amplas

Setelah 3 tahun menunggu, minoritas muslim di Dusun 3A Selambo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang akhirnya kembali mendapatkan daging kurban pada Sabtu (1/7) lalu. Warga bersama-sama memeriahkan momen tersebut dengan saling bahu-membahu mempersiapkan distribusi kurban.

Warga Dusun 3A sedang melakukan pencacahan daging kurban. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, DELI SERDANG - “Ngapain kalian kumpul di sini? Bayar Rp2 ribu satu orang kalau mau menonton!” canda Ayub Pringadi Marbun kepada anak-anak yang sedang menyaksikan pencacahan kurban oleh Global Qurban – ACT di Masjid Ar-Rahman, Dusun 3A Selambo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Anak-anak yang sedari pagi menunggu ini tahu kepala dusun mereka hanya bergurau. Wajah-wajah kecil itu cuma membalas cengengesan, tak beranjak.

Kurban pada Sabtu (1/8) itu memang istimewa, sebab penyembelihan kurban jarang dilakukan di Dusun 3. Wajar anak-anak sampai orang tua pun antusias karena beberapa tahun sebelumnya, daging-daging kurban tidak pernah mampir ke daerah minoritas muslim ini.

“Tahun kemarin tidak ada kurban. Terakhir itu tahun 2017. Itu datangnya mendadak pada hari itu juga karena ada dermawan yang mau menyumbangkan kurbannya untuk dusun kami. Pada tahun ini kalau tidak ada para dermawan juga, kami tidak kurban sebenarnya,” terang Ayub.

Dari sekitar 2.000 kepala keluarga, hanya sekitar 250 kepala keluarga yang merupakan warga muslim. Ditambah pendapatan mereka yang tidak menentu setiap harinya membuat masyarakat jarang berkurban.


Anak-anak Dusun 3A sedang duduk di atas bentor. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Mayoritas di sini pekerjaannya kalau bukan buruh gunting bawang, pengayung bentor (becak motor), ya buruh lepas. Makanya lebih baik memenuhi kebutuhannya dahulu, kalau kurban ya jarang jadinya,” ungkap Ayub.

Alfiansyahri (51) salah satunya, yang mendapatkan daging hari itu. Ia bekerja sebagai pengemudi bentor dan juga pemotong bawang sebagai sampingan. Ia mengaku memang jarang ada perayaan kurban selain karena penghasilan, juga karena jumlah mereka semua sangat sedikit.

“Untuk bentor bisa Rp40 ribu sampai Rp50 ribu sehari, terus juga saya ambil bawang dari toke (pemilik ladang). Sehari bisa kupas sampai 30-40 kilogram. Kalau keadaan, ya beginilah seperti kelihatannya. Jadi untuk kurban kami juga jarang-jarang mengadakan di dusun ini,” ungkap Alfiansyahri.


Sebab itu, masyarakat hari itu bergembira menyambut daging-daging kurban yang kembali menyapa dusun mereka. “Kami dari warga mengucapkan ribuan terima kasih dan kami berharap semoga di tahun yang akan datang, dari Global Qurban dapat kira-kira membantu kami kembali dalam melaksanakan pemotongan hewan kurban,” ucap Alfiansyahri.

Harapan yang sama diutarakan Ayub. Ia berharap lebih banyak lagi perhatian kepada masyarakat muslim di Dusun 3, sehingga silaturahmi mereka sesama warga dapat tetap terus terjaga.

“Karenanya perlu sering-sering ada kegiatan seperti ini, biar kebersamaan kita tetap ada. Insyaallah daging-daging ini juga bermanfaat bagi masyarakat dan menjadi amal ibadah bagi donatur yang menitipkan kurbannya,” harap Ayub.

Ibu-ibu sekitar menuangkan sirop beserta air dan es batu di dalam baskom, tak lupa membawa gorengan sebagai pelengkap. Sementara muazin melantunkan selawat di pengeras masjid. Menjelang zuhur, masing-masing panitia kurban dan warga beristirahat dari pemotongan daging. Kebersamaan yang mereka tunggu sejak tiga tahun lalu itu terasa hangat. []