Kemewahan Spiritual

Kemewahan Spiritual

 

Iqbal Setyarso

Vice President ACT

Istilah ini meminjam logika duniawi untuk soal akhirat. Bagi umat beriman, kehakikian itu akhirat. Yang duniawi semu belaka, semua akan musnah tanpa kecuali. Yang abadi itu akhirat, bahkan semua manusia akhiratlah kampungnya. Di hari-hari jelang lebaran, pada kesibukan persiapan mudik/pulang kampung, umat beriman seharusnya meyakini, akhiratlah kampung halamannya yang hakiki.

Ramadan memasuki hari-hari jelang berakhir. Momentum istimewanya, tersedia di sejumlah hari. Malam gasal Ramadan yang menjelang, tinggal tanggal 27 dan 29, juga diyakini sebagai saat yang mungkin turunnya laylatu'l qadar. I'tikaf akan ramai di malam-malam gasal Ramadan. Tapi tak kurang yang memahami, sepanjang Ramadan, istimewa. Tak ada sedetik pun malam di luar Ramadan, seistimewa setiap detik di bulan Ramadan. Dan kebaikan diganjar pahala berlipat ganda, di sepanjang Ramadan. 

Karena itu, Ramadan di semua waktunya, istimewa. Ramadan, adalah bulan merengkuh kemewahan akhirat. Kemewahan itu hanya bisa diraih dengan ibadah, perbuatan baik yang berlandaskan keikhlasan. Menjalani kebaikan dengan ikhlas di bulan Ramadan, menjadi momentum "foya-foya akhirat", belanja spiritual dalam kemewahan.

Mewah, karena dengan jerih-payah terbatas, Allah membalasnya berganda. Mewah, karena ibadah sosial yang dalam timbangan kita "ringan", namun adanya hamba Allah yang disasar amal sosial kita bersyukur dengan amal itu, maka dalam timbangan Allah menjadi "berat". Begitu hebat balasan sekadar berbagi ta'jil, terlebih makanan berbuka. 

ACT mendapat dukungan banyak pihak untuk sekadar aktivitas berbuka puasa dalam banyak varian: paket pangan Ramadan (PPR) ke Tepian Negeri dengan Kapal Ramadan, PPR untuk Masyarakat Penjaga Negeri (PPR MPN) di wilayah-wilayah Perbatasan bersinergi dengan TNI, layanan berbuka untuk warga 223 RW kupat (kumuh-padat) miskin DKI Jakarta, bahkan Dapur Umum di Gaza! Semua, wujud karya sosial karitatif yang diganjar Allah berganda.

Kami meyakini, kapasitas donor society di Ibukota dan kota-kota maju di Indonesia, jauh di atas sekadar berbagi santapan berbuka. Sadar, Ramadan ini sebagai kemewahan spiritual, di mana keberkahan sudah disiapkanNya untuk dikucurkan di tengah hamba-hambaNya, tentu saat itu takkan dibiarkan berlalu tanpa amal lainnya. Sebuah kehormatan, melayani Anda semua dalam mempercayakan ragam filantropi lainnya. 

Bagi kami, sebuah kehormatan besar jika pada momentum jelang perpisahan dengan Ramadan ini, melayani amanah filantropi yang istimewa. Ramadan bukan saja bulan berzakat. Wakaf yang ditunaikan dalam momentum Ramadan, Insya Allah balasannya amat besar. Energi kemaslahatannya, menembus batas kehidupan kita para wakifnya. Nazir-nazir penghidup aset wakaf yang ditunaikan saat Ramadan pun, menyandang amanah dengan layanan terbaiknya.

Wakaf pada bulan Ramadan memang bukan seperti perlawanan Mujahid Alib Arsalan, panglima dan Sultan Bani Saljuk yang menaklukkan Byzantium pada Ramadan 463H (1070 M). Atau, penghancuran berhala Uzza saat penaklukan Makkah pada Ramadan 8 H (630 M). Apalagi penghentian ekspansi dahsyat Tentara Tartar dengan 200 ribu tentara yang mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah dalam perang 40 hari, oleh Khalifah Mamluk di Mesir, Syarifuddin Muzaffar al Quthuz pada Ramadhan 658H (September 1260M). Perang yang menyelamatkan Bangsa-Bangsa Muslim.

Meski demikian, di Ramadan ini, kesalehan sosial melalui wakaf, menjadi energi kebangkitan umat. Semoga Allah anugerahkan balasan amal wakaf akhir Ramadan ini, sehebat amal-amal hebat lainnya di bulan Ramadan yang penuh sejarah, Insya Allah. []

Tag

Belum ada tag sama sekali